Amsterdam (Tutur.co.id) – Keberhasilan konser di Ankara menjadi langkah pembuka bagi Avip Priatna dan kelompok yang dipimpinnya, Jakarta Concert Orchestra (JCO) serta Batavia Madrigal Singers (BMS), untuk melanjutkan perjalanan musikal mereka di Eropa. Kali ini, mereka tampil di Het Concertgebouw, Amsterdam, pada 15 April 2026. Sebuah gedung konser legendaris yang dikenal memiliki akustik terbaik di dunia.
Selama 90 menit, penonton disuguhkan rangkaian repertoar lagu nasional dan daerah Indonesia yang diolah ulang dalam format orkestra simfoni. Sentuhan aransemen modern berpadu dengan kekayaan musikal Nusantara menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi sekitar 1.200 penonton yang memenuhi aula konser tersebut.
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari pianis muda James Lai, yang tampil bersama JCO membawakan sembilan variasi lagu “Sepasang Mata Bola” karya Ismail Marzuki. Aransemen berbentuk piano concerto karya Yazeed Djamin dengan durasi lebih dari 20 menit itu menghadirkan dinamika musikal yang memikat dan mendapat sambutan meriah.
Suasana semakin emosional ketika tenor Farman Purnama, mezzo soprano Valentina Aman, serta violinis muda Raelene Pramana membawakan lagu “Indonesia Pusaka” bersama BMS. Penampilan tersebut menghadirkan nuansa haru, terutama bagi diaspora Indonesia yang hadir di konser tersebut.
Duta Besar RI untuk Den Haag, Amrih Jinangkung, yang turut menyaksikan konser, menyebut penampilan ini sebagai momen bersejarah. Ia menilai kehadiran orkestra Indonesia di Concertgebouw untuk pertama kalinya menjadi langkah penting dalam memperkenalkan kekayaan musik Indonesia kepada publik internasional.
Selain karya bertema Nusantara, JCO juga menampilkan komposisi simfonik orisinal seperti “Rampak Melayu” karya Arya Pugala Kitti dan “Overture Fatahillah” karya Fero Aldiansya Stefanus. Penampilan semakin berwarna dengan aransemen lagu daerah seperti “Tak Tong Tong”, “Sik Sik Sibatumanikam”, dan “Benggong”.
Interaksi unik juga hadir melalui duet flute Meta Ariana dan Marini Widyastari yang membawakan variasi lagu “Tokecang” aransemen Elwin Hendrijanto, melibatkan penonton secara langsung dalam pertunjukan.
Bagi Avip, tur ini bukan sekadar rangkaian konser, melainkan bagian dari upaya mempromosikan karya simfonik Indonesia ke panggung dunia. Ia berharap komposisi karya anak bangsa dapat semakin dikenal dan dimainkan oleh orkestra internasional.
Setelah Amsterdam, perjalanan musik ini akan berlanjut ke Basel, Swiss, pada 17 April sebagai bagian dari peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Swiss. Sebuah langkah lanjutan dalam diplomasi budaya yang mengalir melalui nada dan harmoni dari Nusantara ke dunia.

