Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek, dengan kecenderungan mendatar (sideways) di tengah tekanan sentimen global yang masih tinggi.
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam kisaran 7.450 hingga 7.550 dalam waktu dekat. Meski volatilitas meningkat, sektor energi dinilai tetap menjadi penopang utama indeks.
“Selama harga minyak tetap tinggi dan konflik geopolitik belum mereda, sektor energi berpotensi menjadi leading sector. Investor bisa memanfaatkan momentum ini, namun tetap disiplin dalam manajemen risiko,” ujarnya.
Pada awal pekan, IHSG menunjukkan ketahanan yang cukup solid dengan ditutup menguat 0,56% ke level 7.500. Capaian ini tergolong positif, mengingat sebagian besar bursa saham di kawasan Asia dan Eropa justru mengalami pelemahan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.
Penguatan IHSG didorong oleh aksi beli bersih (net buy) investor asing yang mencapai sekitar Rp646 miliar. Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah juga memberikan sentimen tambahan bagi pasar domestik.
Menurut Hendra, kondisi ini mencerminkan bahwa Indonesia masih dipandang sebagai pasar yang relatif stabil di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Namun di sisi lain, dinamika global tetap menjadi faktor risiko utama. Kegagalan perundingan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran eskalasi konflik, termasuk potensi gangguan distribusi energi di Selat Hormuz—jalur vital bagi perdagangan minyak dunia.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak melonjak hingga menembus US$100 per barel, yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Dampaknya, ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve berpotensi tertunda, bahkan membuka peluang suku bunga bertahan tinggi lebih lama.
Situasi ini menekan pasar saham global, terutama sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga. Namun sebaliknya, sektor energi justru diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas tersebut.
Melihat kondisi ini, sejumlah saham sektor energi direkomendasikan untuk dicermati, di antaranya Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), Elnusa Tbk (ELSA), Solusi Bangun Indonesia Tbk (SUPA), serta Gozco Plantations Tbk (GZCO).
Saham PGAS direkomendasikan dengan strategi speculative buy di kisaran 1.900–1.930, dengan target harga 1.990 dan support di 1.850. Sementara ELSA dinilai menarik dengan area masuk di 760–780, target 805, dan support di 740, didukung pergerakan agresif saat sektor energi menguat.
Adapun SUPA dapat menjadi pilihan bagi investor yang mengincar stabilitas, dengan area beli di 920–950, target 985, dan support di 900. Sementara GZCO menjadi opsi trading berisiko tinggi dengan potensi imbal hasil cepat, memiliki area entry di 220–230, target 246, dan support di 210.
Dengan kombinasi sentimen global yang masih bergejolak dan peluang dari sektor energi, IHSG diperkirakan akan bergerak terbatas dalam jangka pendek. Investor disarankan tetap selektif, fokus pada sektor yang diuntungkan kondisi global, serta disiplin dalam mengelola risiko investasi.

