Bogor (tutur.co.id) – Pemandangan langka dapat dilihat di Kelenteng Phan Ko Bio Bogor. Ternyata kelenteng tua di Pulo Geulis ini punya musala di dalamnya. Musala tersebut memang disediakan bagi umat muslim yang ingin melaksanakan ibadah salat.
Pemandangan tak biasa itu mencerminkan keterbukaan yang sudah lama dijaga oleh pengurus kelenteng.
Menurut Candra Kusuma selaku pengurus, keberadaan musala bukan untuk menyaingi tempat ibadah Muslim yang sudah ada. Namun lebih pada wujud penghormatan sekaligus toleransi antarumat beragama. Tujuannya sederhana, yaitu memudahkan siapa pun yang ingin beribadah.
“Kami tidak menutup kemungkinan bagi yang ingin salat di sini, jadi kami sediakan tempatnya,” ujar Candra kepada tutur.

Menurut Candra, musala di dalam area kelenteng itu sebenarnya sudah ada sejak lama, meskipun tidak semua terdokumentasi dengan jelas mulai kapan. Namun keberadaannya mulai lebih tertata dan terfokus sejak sekitar tahun 2008 hingga 2010, seiring dengan adanya kepengurusan yang lebih terorganisasi.
Fasilitas ibadah kemudian dilengkapi secara bertahap, seperti mukena, sajadah, hingga perlengkapan lain yang menunjang kenyamanan. Hal ini menunjukkan bahwa musala tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat.
Tidak hanya menyediakan tempat ibadah, kelenteng juga aktif mendukung kegiatan keagamaan Islam. Salah satunya adalah sedekah Maulid yang mulai terfokus dan terdokumentasi sejak tahun 2012. Kegiatan ini rutin dilaksanakan dan melibatkan masyarakat luas. Bahkan, ustaz dan tokoh agama juga diundang untuk mengisi acara.
“Sejak 2012 kegiatan itu lebih terfokus dan terus berjalan sampai sekarang,” jelas Candra.
Selain itu, terdapat juga kegiatan pengajian yang dilakukan setiap malam Jumat. Kegiatan ini diikuti oleh pemuda setempat dan dikemas dalam bentuk tawasulan. Aktivitas ini menjadi bukti bahwa kelenteng tidak hanya menjadi ruang satu kelompok saja. Melainkan menjadi ruang bersama bagi berbagai keyakinan.
Yang menarik, semua ini dilakukan tanpa adanya paksaan. Setiap individu tetap menjalankan keyakinannya masing-masing. Tidak ada upaya untuk mencampurkan ajaran, melainkan saling menghormati. Inilah bentuk toleransi yang sesungguhnya.
Keberadaan musala juga mempermudah para pengunjung muslim yang datang. Mereka dapat beribadah tanpa harus meninggalkan area kelenteng. Hal ini membuat suasana menjadi lebih inklusif dan nyaman. Tidak heran jika tempat ini sering dijadikan contoh nyata toleransi.
Dengan adanya musala, Kelenteng Phan Ko membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang. Justru dari perbedaan itulah lahir rasa saling menghargai. Toleransi tidak hanya diucapkan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

