Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan IHSG diperkirakan memasuki fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah, setelah sebelumnya menguat 2,07% ke level 7.458,5 pada penutupan perdagangan terakhir.
Analis teknikal dari Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Axmal Fauza, menyebut tekanan terhadap indeks masih datang dari sentimen geopolitik global yang belum mereda. Di sisi lain, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu sejumlah data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri.
“IHSG berpotensi bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Sentimen negatif geopolitik global masih membayangi, sementara investor menanti rilis data ekonomi seperti neraca perdagangan China dan penjualan ritel domestik,” ujar Axmal.
Selain faktor eksternal, pergerakan nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian. Ia memperkirakan rupiah masih berpotensi melanjutkan tren pelemahan di kisaran Rp17.050 hingga Rp17.150 per dolar AS, dipicu kombinasi risiko geopolitik dan keraguan terhadap stabilitas fiskal.
Di tengah kondisi tersebut, Korea Investment & Sekuritas Indonesia merekomendasikan dua saham yang dinilai masih menarik secara teknikal, yakni Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dan Panin Financial Tbk (PNLF).
Untuk saham ENRG, rekomendasi beli diberikan dengan target harga (TP) di level Rp1.800 hingga Rp1.875. Adapun area masuk (entry) berada di kisaran Rp1.685 dan Rp1.640, dengan batas risiko (stop loss) di Rp1.575.
Sementara itu, saham PNLF direkomendasikan beli dengan target harga Rp256 hingga Rp264. Investor dapat mencermati area masuk di Rp240 dan Rp230, serta stop loss di Rp224.
Dari sisi komoditas, Axmal memproyeksikan pergerakan yang beragam. Harga minyak dunia diperkirakan melemah seiring harapan meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat menurunkan risiko gangguan pasokan.
Harga emas juga berpotensi tertekan akibat inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi, sehingga menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga. Selain itu, permintaan dari China yang melemah turut menekan harga logam mulia.
Sebaliknya, harga tembaga diproyeksikan menguat didorong optimisme terhadap pemulihan jalur distribusi global, termasuk potensi terbukanya kembali Selat Hormuz yang krusial bagi perdagangan internasional.
Sepanjang pekan ini, pasar juga akan diwarnai oleh sejumlah agenda ekonomi penting global. Dari Amerika Serikat, data penjualan rumah dan indeks harga produsen (PPI) akan menjadi sorotan. Sementara dari China, pelaku pasar menanti rilis neraca perdagangan, produksi industri, hingga pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama.
Di dalam negeri, data penjualan ritel Indonesia akan menjadi indikator penting untuk mengukur daya beli masyarakat.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan akan tetap fluktuatif. Investor disarankan untuk tetap selektif dalam memilih saham serta mencermati perkembangan data ekonomi global yang berpotensi memengaruhi arah pasar.

