Manchester (Tutur.co.id) – Pengakuan terbuka disampaikan Alejandro Garnacho mengenai akhir perjalanannya bersama Manchester United. Winger asal Argentina itu mengakui bahwa kepergiannya dari Old Trafford tidak terlepas dari sikapnya sendiri, dan meninggalkan luka yang lebih dalam dari yang ia tunjukkan ke publik.
Garnacho hengkang pada musim panas lalu dan bergabung dengan Chelsea dengan nilai transfer sekitar 40 juta pound. Namun, alih-alih mendapatkan awal baru yang mulus, kariernya di Stamford Bridge justru berjalan tersendat.
Dalam wawancara terbarunya, Garnacho mengungkapkan bahwa penurunan performa menjadi awal dari masalah yang dihadapi di Manchester United. Situasi tersebut semakin rumit ketika hubungannya dengan pelatih Ruben Amorim memburuk.
Pada periode itu, ia mulai lebih sering duduk di bangku cadangan. Kondisi tersebut diperparah oleh isu indisipliner serta aktivitasnya di media sosial yang memicu kontroversi, termasuk ketika ia mengenakan seragam Aston Villa bertuliskan nama Marcus Rashford, sebuah gestur yang dianggap provokatif.
“Saya ingat dalam enam bulan terakhir, saya tidak bermain seperti sebelumnya di Manchester United. Saya mulai duduk di bangku cadangan. Itu sebenarnya bukan hal buruk, saya baru 20 tahun, tetapi di pikiran saya, saya merasa harus bermain di setiap pertandingan,” kata Garnacho.
Ia mengakui bahwa tekanan tersebut memengaruhi sikapnya.
“Dalam pikiran saya, mungkin ini juga kesalahan saya, saya mulai melakukan beberapa hal yang tidak baik. Tapi, ya, itu hanya fase dalam hidup,” ujarnya.
Meski perpisahan itu berlangsung dalam situasi yang tidak ideal, Garnacho menegaskan tidak menyimpan kebencian terhadap mantan klubnya. Ia justru mengaku masih memiliki rasa cinta yang besar.
“Ya, mungkin iya, karena saya mencintai klub itu. Mereka memberi saya kepercayaan sejak awal… dengan cinta luar biasa dari semua orang,” ungkapnya.
Namun, perjalanan di Chelsea juga belum berjalan sesuai harapan. Meski datang dengan ekspektasi tinggi dan kontrak jangka panjang hingga 2032, Garnacho belum mampu menunjukkan konsistensi. Sejauh musim ini, ia baru mencetak satu gol dari 20 penampilan di Liga Inggris.
Pergantian pelatih dari Enzo Maresca ke Liam Rosenior pun belum memberikan dampak signifikan bagi performanya. Di sisi lain, performa Chelsea yang belum stabil serta kegagalan di kompetisi Eropa semakin menambah tekanan.
Kini, di usia 21 tahun, Garnacho berada di persimpangan penting dalam kariernya. Pemain yang dulu diproyeksikan sebagai masa depan lini serang Manchester United itu kini bahkan dikabarkan berpeluang dipinjamkan ke Argentina.
Pelatih River Plate, Eduardo Coudet, disebut telah menghubunginya untuk membahas kemungkinan tersebut, sebuah skenario yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Delapan bulan setelah kepindahannya, Chelsea masih menanti kontribusi maksimal dari Garnacho. Sementara itu, sang pemain sendiri mengakui bahwa ia masih dalam proses menemukan kembali performa terbaiknya di tengah tekanan dan ekspektasi besar yang menyertainya.

