Jakarta (tutur.co.id) — Harga minyak dunia anjlok tajam hingga kembali ke bawah US$100 per barel pada perdagangan Rabu (8/4/2026), seiring meredanya ketegangan geopolitik menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent ditutup turun US$14,52 atau 13,29% ke level US$94,75 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) merosot lebih dalam sebesar US$18,54 atau 16,41% menjadi US$94,41 per barel—penurunan harian terbesar sejak 2020.
Penurunan tajam ini dipicu optimisme pasar terhadap potensi dibukanya kembali jalur energi global di Selat Hormuz, yang selama konflik menjadi titik krusial gangguan pasokan.
Pendiri Lipow Oil Associates Andrew Lipow mengatakan pasar mulai mengantisipasi normalisasi distribusi energi.
“Pasar berharap pasokan minyak yang sempat tertahan dapat kembali mengalir melalui jalur pengiriman tersebut,” ujarnya.
Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, sehingga setiap perkembangan di kawasan itu langsung tercermin pada pergerakan harga energi global.
Sentimen positif datang setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan penghentian serangan terhadap Iran selama dua pekan. Melalui platform Truth Social, Trump menyebut langkah ini sebagai “gencatan senjata dua arah” sekaligus membuka peluang negosiasi lebih luas, termasuk soal tarif dan sanksi.
Namun, optimisme tersebut masih dibayangi ketidakpastian. Lipow menilai kesepakatan ini masih sangat rapuh.
“Pasar memang optimistis lebih banyak pasokan minyak akan masuk. Namun, risiko tetap tinggi karena kesepakatan ini sangat rentan,” katanya.
Ketegangan di kawasan juga belum sepenuhnya reda, setelah Israel dilaporkan melancarkan serangan ke Lebanon. Bahkan, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menuding adanya pelanggaran dalam kesepakatan gencatan senjata.
Di sisi lain, jalur pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan belum sepenuhnya normal. Sumber pelayaran menyebut angkatan laut Iran masih mengancam kapal yang melintas tanpa izin, meski ada sinyal pembukaan terbatas dalam waktu dekat.
Analis Raymond James Pavel Molchanov menilai stabilitas jalur tersebut akan menjadi faktor penentu ke depan.
“Harga minyak kemungkinan tetap bertahan di atas level sebelum perang hingga ada kepastian normalisasi pengiriman,” ujarnya.
Wall Street Menguat Tajam
Di tengah anjloknya harga minyak, pasar saham justru merespons positif meredanya konflik.
Indeks-indeks utama di Wall Street melonjak signifikan. Dow Jones Industrial Average naik 1.325,46 poin atau 2,85% ke 47.909,92—kinerja terbaik sejak April 2025. Sementara S&P 500 menguat 2,51% dan Nasdaq Composite melesat 2,80%.
Penguatan ini mencerminkan pergeseran sentimen investor dari risk-off ke risk-on, seiring menurunnya risiko geopolitik jangka pendek.
Chief Market Strategist Freedom Capital Markets Jay Woods mengatakan pasar mulai membaca arah kebijakan Trump dengan lebih jelas.
“Pasar kini semakin jeli membaca arah kebijakan Trump. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah periode dua pekan ini akan benar-benar menghasilkan solusi permanen,” ujarnya.
Reli dipimpin sektor teknologi, khususnya semikonduktor. Sementara itu, saham energi justru terkoreksi tajam, mengikuti penurunan harga minyak. Saham Exxon Mobil dan Chevron masing-masing turun lebih dari 4%.
Pasar Global: Optimisme vs Risiko
Penguatan tidak hanya terjadi di AS. Indeks pasar negara berkembang ikut melonjak, mencerminkan kembalinya minat investor terhadap aset berisiko.
Meski demikian, sejumlah pelaku pasar mengingatkan reli ini masih rentan. Laporan gangguan tanker di Selat Hormuz dan tudingan pelanggaran kesepakatan menunjukkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.
Direktur Investasi Modern Wealth Management Stephen Tuckwood menilai reli saat ini bisa menjadi awal pembentukan dasar pasar.
“Tidak ada pasar yang naik dalam garis lurus. Namun, kami melihat fondasi yang cukup kuat mulai terbentuk,” ujarnya.

