Jakarta (tutur.co.id)- Psikologi positif jarang menekankan bahwa keteraturan eksternal berkontribusi pada ketenangan batin. Ketahui beberapa mitos yang dapat memengaruhi proses merapikan barang yang tak sesulit itu.
Dikutip dari laman psychology today, berikut mitos-mitos seputar decluttering:
- Saya harus mengatur segalanya! – Tidak, Anda tidak harus memulai dengan mengatur semuanya dalam memulai proses decluttering.
- Saya harus hyper-organized! – Kepercayaan bahwa menyusun barang dengan sangat teratur dapat memudahkan saat mencarinya kembali, tidak sepenuhnya benar. Misal Anda harus meletakkan barang A di laci nomor tiga. Sepatu harus disusun berdasarkan tinggi solnya. Dorongan ini justru membuat destruktif.
- Saya membutuhkan ruang simpan yang lebih! – Bila Anda melihat poin satu, maka tak perlu lagi punya ruang untuk menyimpan yang lebih banyak dari yang sekarang.
- Saya harus menemukan orang yang tepat untuk menerima barang ini! – Jangan membuang waktu untuk memilihkan satu-persatu barang ditujukan untuk siapa. Karena ini adalah sumber kekacauan berikutnya. Cukup miliki satu dua nama penerima, dan serahkan. Ini akan lebih cepat memindahkan barang.
- Saya tidak bisa memberikan barang, gimana kalau suatu hari saya membutuhkannya?– Perasaan takut seperti ini yang menghalangi proses decluttering. Anda tidak perlu memiliki terlalu banyak barang cukup simpan satu dua saja.
- Saya menyimpannya karena mau saya perbaiki. – Kalau dalam waktu enam bulan barang tersebut masih rusak, itu berarti Anda sedang menimbun.
- Saya akan belajar cara menggunakan alat tersebut. – Dalam waktu setahun alat tersebut tidak Anda sentuh dan menghasilkan apapun, berarti Anda sedang menimbunnya.
Kenali ciri-ciri mitosnya, mulailah merapikan barang-barang Anda demi ketenangan batin.

