Yogyakarta (tutur.co.id) — Ketahanan energi Indonesia dinilai masih rentan di tengah tekanan geopolitik dan potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino. Ketergantungan impor minyak, terutama dari Timur Tengah, menjadi salah satu faktor utama risiko tersebut.
Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Deendarlianto, mengungkapkan cadangan energi nasional hanya mampu bertahan 20–22 hari tanpa pasokan baru. Sementara kebutuhan minyak mencapai 1,5 juta barel per hari, produksi domestik baru sekitar 600 ribu barel per hari.
“Jika pasokan terhenti, dampaknya bisa meluas ke sektor industri, transportasi, hingga kelistrikan,” ujarnya, seperti dikutip dari ugm.ac.id.
Ia mengapresiasi langkah pemerintah mendorong energi terbarukan, seperti kebijakan B50 untuk mengurangi impor solar. Selain itu, pengembangan etanol, Dimethyl Ether (DME), serta energi berbasis hayati dan surya dinilai menjadi solusi strategis.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino akan muncul pada semester II 2026, yang berpotensi menekan sektor energi dan pertanian.
Deendarlianto menekankan pentingnya percepatan implementasi Rencana Umum Energi Nasional serta penguatan industri energi domestik guna mengurangi ketergantungan impor.

