Surabaya (Tutur.co.id) – Wakil Ketua Proliga, Reginald Nelwan, menilai persaingan babak final four Proliga 2026 akan berlangsung lebih kompetitif dibanding musim sebelumnya. Peningkatan kualitas pemain, persiapan tim yang lebih matang, serta kehadiran sejumlah bintang disebut menjadi faktor utama yang mendorong ketatnya persaingan tahun ini.
“Persaingan tahun ini akan jauh lebih kompetitif. Beberapa tim, baik putra maupun putri, telah menambah dan mengganti pemainnya,” ujar Reginald dalam keterangan resminya.
Di sektor putra, juara bertahan Jakarta Bhayangkara Presisi akan menghadapi tantangan dari Jakarta LavAni Livin’ Transmedia, Jakarta Garuda Jaya, dan Surabaya Samator. Sementara di sektor putri, persaingan melibatkan Jakarta Pertamina Enduro, Jakarta Electric PLN Mobile, Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia, serta Jakarta Popsivo Polwan.
Babak final four yang digelar di Jawa Pos Arena, Surabaya, mulai Kamis (2/4/2026) juga disambut antusiasme tinggi dari penonton. Panitia menyediakan sekitar 3.000 tiket per hari yang dapat dibeli secara daring.
Sebagai tuan rumah pekan pertama, Surabaya Samator memilih mempertahankan kekuatan pemain lokal tanpa melakukan perubahan besar. Manajer tim, Jadi Sampurno, menyebut pihaknya hanya melakukan pergantian terbatas dengan tetap mengandalkan pemain binaan sendiri.
Di sisi lain, Jakarta Garuda Jaya harus melakukan rotasi akibat cedera pemain. Manajer Loudry Maspaitella mengungkapkan timnya mendatangkan spiker baru untuk menggantikan Sokolov yang absen.
Ambisi besar juga ditunjukkan LavAni Livin’ Transmedia dengan merekrut pemain asing asal Jerman, Georg Grozer, demi merebut kembali gelar juara. Sementara Bhayangkara Presisi tetap tampil solid dengan tambahan Martin Atanasov asal Bulgaria.
Di sektor putri, perombakan pemain asing menjadi strategi utama sejumlah tim. Pertamina Enduro mengganti Iana Shcherban dengan Voronkova, sementara Electric PLN Mobile mendatangkan Kara Bajema menggantikan Celeste Plak. Popsivo Polwan juga melakukan perubahan dengan memasukkan Malwina Smarzek sebagai pengganti Bethania De La Cruz.
Berbeda dengan tim lainnya, Gresik Phonska memilih mempertahankan pemain asing mereka, namun melakukan penyegaran pada sektor lokal dengan mengganti Shakira dengan Dhea.

