Washington (Tutur.co.id) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah menyatakan kesediaannya untuk mengakhiri konflik dengan Iran, bahkan jika hal tersebut berarti Selat Hormuz, jalur vital bagi 20% pasokan minyak global dan 25% gas dunia, tetap tertutup.
Laporan ini, yang diungkap oleh Wall Street Journal (WSJ) pada Selasa (31/3/2026) dengan mengutip para pejabat administrasi, mengindikasikan pergeseran strategi AS di Timur Tengah.
Menurut WSJ, Trump dan para pembantunya meyakini bahwa operasi militer untuk membuka Selat Hormuz akan memperpanjang konflik Iran melampaui target waktu empat hingga enam minggu yang telah ditetapkan.
“Presiden memiliki opsi militer, tetapi itu bukan prioritasnya,” kata seorang pejabat administrasi yang dilansir dari beberapa media Amerika Serikat.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Trump telah memutuskan bahwa “AS harus mencapai tujuannya untuk melumpuhkan angkatan laut dan rudal Iran,” dan selanjutnya “mengurangi permusuhan sambil memberikan tekanan diplomatik kepada Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz.”
Jika upaya ini gagal, Washington akan mendorong sekutu di Eropa dan Teluk untuk mengambil alih pembukaan kembali selat tersebut.
Dampak Pasar dan Ancaman Trump
Kabar ini segera memicu reaksi positif di pasar global. Harga minyak mentah Brent turun 1,3% menjadi US$106,04 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) melandai 0,7% menjadi US$102,22 per barel.
Bursa saham di Asia juga menguat, dengan indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,5% menjadi 24.869,71 dan indeks Komposit Shanghai naik 0,3% menjadi 3.935,05.
Laporan ini muncul setelah Trump pada Senin sebelumnya mengancam akan menghancurkan Pulau Kharg, lokasi utama penyimpanan minyak mentah Iran, jika kesepakatan damai tidak tercapai.
Dalam cuitannya, ia menyatakan pasukan AS akan menghancurkan “semua Pembangkit Listrik, Sumur Minyak, dan Pulau Kharg (serta mungkin semua pabrik desalinasi).”
Namun, pada hari yang sama, Trump juga sempat mengisyaratkan adanya pembicaraan dengan “rezim yang lebih masuk akal” di Teheran. Klaim ini dibantah keras oleh Iran, yang menuduh Trump berbohong tentang negosiasi sebagai kedok untuk mempersiapkan invasi darat. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyatakan harapan untuk bekerja sama dengan elemen-elemen di dalam pemerintahan Iran.
Para ahli pasar sebelumnya telah memperingatkan bahwa operasi darat AS atau pembalasan Iran yang lebih luas dapat mendorong harga minyak ke level yang belum pernah terlihat sejak Juli 2008, ketika Brent hampir mencapai US$150 per barel. Strategi baru Trump ini tampaknya bertujuan untuk menghindari eskalasi semacam itu, meskipun dengan potensi konsekuensi yang signifikan terhadap jalur pelayaran global.

