Teheran (Tutur.co.id) — Juru bicara militer Iran mengklaim lebih dari 500 tentara Amerika Serikat tewas atau terluka dalam serangan yang menargetkan posisi militer AS di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya yang disiarkan ke media sosial, juru bicara IRGC, Brigjend Abolfazl Shekarchi, memperingatkan bahwa wilayah tersebut dapat menjadi “kuburan” bagi tentara Amerika jika konflik terus berlanjut.
Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Hingga kini, tidak ada konfirmasi resmi dari Pentagon yang mendukung angka korban sebesar itu.
Data dari pejabat Amerika Serikat dan laporan media internasional menunjukkan angka yang jauh lebih rendah, dengan sekitar 13 tentara AS tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka sejak konflik dimulai pada akhir Februari 2026.
Serangan Iran terhadap posisi militer AS dilaporkan terjadi di sejumlah negara kawasan, termasuk pangkalan di Arab Saudi, Bahrain, Irak, Uni Emirat Arab, serta beberapa titik di Kuwait.
Salah satu serangan terbaru terjadi di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, yang menyebabkan sedikitnya 12 tentara AS terluka, termasuk dua dalam kondisi serius.
Selain itu, fasilitas militer dan logistik AS di kawasan Teluk juga menjadi target serangan drone dan rudal, yang sebagian menyebabkan kerusakan infrastruktur namun tidak selalu menimbulkan korban jiwa.
Serangan-serangan ini merupakan bagian dari balasan Iran atas operasi militer Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026 dan menargetkan berbagai fasilitas strategis di Iran.
Perbedaan signifikan antara klaim Iran dan data independen menunjukkan meningkatnya perang informasi dalam konflik ini, di mana masing-masing pihak berupaya membentuk persepsi publik mengenai dampak serangan.

