Jakarta (tutur.co.id) — Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, seiring dinamika pasar global dan aksi ambil untung setelah penguatan sebelumnya. Pergerakan harga masih akan berada dalam rentang yang cukup lebar, sehingga pelaku pasar diminta mencermati level teknikal penting sebelum mengambil keputusan.
Pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas Antam berada di kisaran Rp2.800.000 hingga Rp2.980.000 per gram.
“Jika turun, support pertama di Rp2.840.000. Support kedua di Rp2.800.000 per gram,” ujarnya dalam keterangan, Kamis (26/3/2026).
Ia menambahkan, jika harga kembali menguat, maka resistance terdekat berada di level Rp2.920.000 per gram, dengan potensi penguatan lanjutan menuju Rp2.980.000 per gram dalam sepekan ke depan.
Berdasarkan pantauan di laman Logam Mulia, harga emas Antam pada Kamis (26/3/2026) tercatat stagnan di level Rp2.850.000 per gram, setelah sebelumnya sempat naik Rp7.000 pada Rabu (25/3/2026). Meski demikian, posisi harga saat ini masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) sebesar Rp3.168.000 per gram yang tercapai pada 29 Januari 2026.
Di sisi lain, harga beli kembali atau buyback justru mengalami tekanan. Pada Kamis (26/3/2026), harga buyback turun Rp17.000 menjadi Rp2.490.000 per gram. Penurunan ini mencerminkan adanya koreksi jangka pendek di pasar, sekaligus menjadi indikator bahwa volatilitas masih cukup tinggi dalam waktu dekat.
Transaksi emas batangan tetap mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 34/PMK.10/2017, di mana pembelian dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) 22 sebesar 0,45% bagi pemilik NPWP dan 0,9% untuk non-NPWP. Sementara itu, penjualan kembali dengan nominal di atas Rp10 juta dikenakan PPh 22 sebesar 1,5% bagi pemilik NPWP dan 3% bagi non-NPWP, yang dipotong langsung dari nilai transaksi.
Dengan pergerakan yang cenderung fluktuatif, emas masih dipandang sebagai instrumen lindung nilai yang menarik, terutama di tengah ketidakpastian global. Namun, investor disarankan tetap disiplin dalam menentukan strategi, memanfaatkan area support sebagai titik akumulasi dan mewaspadai area resistance untuk realisasi keuntungan, agar dapat mengoptimalkan peluang di tengah volatilitas pasar.

