Jakarta (tutur.co.id) — Di tengah gejolak geopolitik yang terus memanas, raksasa perbankan investasi global Goldman Sachs mengambil langkah signifikan dengan merevisi naik proyeksi harga minyak dunia untuk tahun 2026. Revisi ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ketatnya pasokan energi global, terutama akibat gangguan distribusi di Selat Hormuz yang menjadi nadi perdagangan minyak dunia.
Dalam laporan terbarunya, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak mentah Brent akan mencapai rata-rata US$ 85 per barel pada 2026, melonjak dari estimasi sebelumnya sebesar US$ 77. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga direvisi naik menjadi US$ 79 per barel dari proyeksi awal US$ 72.
Kenaikan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Goldman melihat kombinasi faktor struktural dan geopolitik sebagai pemicu utama. Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz—yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan energi global—serta aksi penimbunan cadangan strategis oleh sejumlah negara dinilai akan memperketat keseimbangan pasar minyak.
Dalam jangka pendek, tekanan bahkan diperkirakan jauh lebih besar. Goldman Sachs memproyeksikan harga Brent bisa menyentuh rata-rata US$ 110 per barel pada periode Maret hingga April 2026. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya premi risiko yang mulai diperhitungkan pelaku pasar di tengah ketidakpastian global.
Dalam skenario ekstrem, Goldman bahkan tidak menutup kemungkinan harga melonjak hingga US$ 135 per barel. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi terjadinya gangguan pasokan signifikan selama beberapa minggu, disertai penurunan produksi hingga 2 juta barel per hari dari kawasan Timur Tengah.
“Dalam kondisi ketidakpastian puncak, pasar akan membutuhkan premi risiko yang cukup besar untuk menyeimbangkan penurunan pasokan,” tulis Goldman dalam catatannya.
Laporan tersebut menyoroti dua risiko utama yang menjadi perhatian investor global. Pertama, potensi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz yang bahkan bisa mendorong harga minyak melampaui rekor tertinggi pada 2008. Kedua, ancaman hilangnya pasokan minyak secara berkelanjutan dari Timur Tengah akibat konflik yang terus bereskalasi.
Ketegangan geopolitik sendiri terus meningkat. Iran dilaporkan mengancam akan menyerang infrastruktur energi dan air negara-negara Teluk sebagai respons atas peringatan keras dari Presiden AS Donald Trump terkait kemungkinan serangan terhadap fasilitas energi Iran. Situasi ini mempertegas bahwa pasar energi global kini berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap dinamika politik.
Meski demikian, Goldman Sachs menilai bahwa jika ketegangan mereda atau operasi militer dihentikan, premi risiko yang saat ini membengkak dapat dengan cepat menghilang, sehingga harga minyak kembali terkoreksi.
Memasuki 2027, bank investasi tersebut memperkirakan harga minyak akan mulai menemukan titik keseimbangan baru. Brent diproyeksikan stabil di kisaran US$ 80 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$ 75. Stabilitas ini diharapkan muncul seiring penyesuaian antara pasokan dan permintaan global, termasuk pemulihan cadangan strategis yang sempat terkuras.
Dengan lanskap yang masih penuh ketidakpastian, arah harga minyak ke depan akan sangat ditentukan oleh seberapa jauh konflik geopolitik berkembang—dan seberapa cepat dunia mampu merespons tekanan terhadap pasokan energi global.

