Jakarta (tutur.co.id) — Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang fondasi stabilitas ekonomi global. Ketegangan antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kini tak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga mulai menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di tengah situasi yang kian memanas, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, mengingatkan bahwa pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp 20.000 per dolar AS bukan lagi sekadar wacana ekstrem.
Menurutnya, risiko tersebut kini semakin nyata seiring potensi lonjakan harga minyak dunia, terganggunya rantai pasok global, serta derasnya arus keluar modal (capital outflow) dari negara berkembang menuju aset yang lebih aman.
“Konflik di Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global beserta turunannya, dengan implikasi serius terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia,” ujar Anthony dalam keterangannya.
Ia menegaskan bahwa struktur ekonomi Indonesia masih cukup rentan terhadap guncangan eksternal. Dalam berbagai episode krisis sebelumnya, nilai tukar rupiah menunjukkan pola depresiasi yang cukup dalam ketika tekanan global meningkat.
Pada periode 2014–2015, rupiah tercatat melemah hingga sekitar 20% dan menembus level Rp 14.650 per dolar AS. Tekanan serupa kembali terjadi pada 2018, ketika rupiah terdepresiasi sekitar 13,5% ke posisi Rp 15.202. Bahkan pada awal pandemi COVID-19 tahun 2020, rupiah sempat anjlok hampir 20% dalam waktu singkat, dari Rp 13.675 menjadi Rp 16.575 per dolar AS.
Dari rangkaian data tersebut, Anthony menilai bahwa besarnya cadangan devisa bukanlah jaminan mutlak dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Faktor yang lebih menentukan adalah keberlanjutan aliran dana asing, yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global.
“Kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, dan pergeseran arus modal dari emerging market ke aset safe haven akan menciptakan tekanan simultan terhadap neraca eksternal Indonesia,” jelasnya.
Saat ini, berdasarkan data Bloomberg per Senin (23/3/2026), rupiah berada di kisaran Rp 16.997 per dolar AS. Jika merujuk pada pola historis depresiasi sebesar 15–20%, maka level Rp 20.000 per dolar AS dinilai sebagai proyeksi yang realistis secara teknikal apabila konflik terus memburuk.
Anthony bahkan memperingatkan bahwa dalam skenario yang lebih ekstrem, pelemahan rupiah bisa melampaui 20% dan terjadi dalam waktu relatif singkat, yakni dalam rentang tiga hingga enam bulan ke depan.
“Angka ini bukan lagi spekulatif, tetapi berbasis data historis,” tegasnya.
Dengan ketidakpastian geopolitik yang belum menunjukkan tanda mereda, arah rupiah ke depan akan sangat bergantung pada dinamika global—mulai dari harga energi, kebijakan suku bunga, hingga pergerakan modal internasional. Di tengah tekanan tersebut, ketahanan ekonomi domestik kembali diuji.

