Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan harga emas dunia masih dibayangi ketidakpastian pada pekan ini. Setelah mengalami tekanan cukup dalam sepanjang pekan lalu, logam mulia tersebut diperkirakan bergerak fluktuatif dengan peluang penguatan yang terbatas, sekaligus belum mampu menembus level psikologis US$5.000 per ons troi.
Pada perdagangan terkini, harga emas tercatat menguat tipis sekitar 0,41% ke level US$4.505,7 per ons troi. Kenaikan ini terjadi setelah emas sempat terkoreksi 3,45% ke posisi US$4.491,15 pada akhir pekan lalu, bahkan mencatatkan penurunan lebih dari 10% dalam sepekan.
Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap harga emas masih cukup kuat, terutama dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat dan tingginya suku bunga global.
“Jika koreksi berlanjut di awal pekan, harga emas berpotensi menguji support di US$4.423,06 per ons troi,” ujarnya.
Menurutnya, apabila tekanan berlanjut, harga emas bahkan berpotensi turun lebih dalam menuju level US$4.319 per ons troi. Namun di sisi lain, peluang rebound tetap terbuka seiring dinamika pasar yang masih sangat dipengaruhi sentimen global.
Dalam skenario penguatan, emas diperkirakan akan menguji resistance di kisaran US$4.559,86, dengan peluang kenaikan lanjutan menuju US$4.681,5 per ons troi.
“Artinya, dalam sepekan ke depan harga emas masih cenderung bergerak di bawah level psikologis,” jelas Ibrahim.
Salah satu faktor utama yang membebani emas adalah penguatan indeks dolar AS. Pergerakan dolar diperkirakan berada di kisaran support 98,73 hingga resistance 101,20. Kondisi ini mendorong investor untuk sementara mengalihkan dana ke dolar AS yang juga dianggap sebagai aset aman (safe haven).
“Penguatan dolar ini membuat investor sementara beralih dari emas ke dolar AS sebagai aset safe haven,” tambahnya.
Di sisi lain, kenaikan harga energi turut memperberat tekanan terhadap emas. Harga minyak mentah dunia, baik West Texas Intermediate (WTI) maupun Brent, diproyeksikan tetap tinggi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Lonjakan harga energi tersebut berdampak pada meningkatnya biaya logistik dan tekanan inflasi global. Dalam situasi ini, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan membuka peluang kenaikan lanjutan—kondisi yang secara historis menjadi sentimen negatif bagi emas.
“Situasi ini membuat bank sentral global cenderung mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan berpotensi kembali menaikkan suku bunga. Ini menjadi sentimen negatif bagi emas,” kata Ibrahim.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan konflik geopolitik, termasuk potensi eskalasi ke perang darat di Timur Tengah. Arah pergerakan emas dalam jangka pendek sangat bergantung pada dinamika tersebut, selain faktor makroekonomi global seperti inflasi dan kebijakan moneter.

