Jakarta (tutur.co.id) — Di balik kecanggihan kecerdasan buatan, ada kebutuhan yang jauh lebih mendasar: listrik. Dalam persaingan global mengembangkan AI, Meta Platforms kini melangkah lebih jauh dengan mengamankan energi dari sumber yang selama ini dianggap rumit dan mahal—tenaga nuklir. Langkah ini menandai babak baru perlombaan teknologi, ketika atom menjadi penentu kecepatan algoritma.
Meta Platforms menandatangani serangkaian kesepakatan pembelian listrik berskala besar untuk menopang pusat-pusat data raksasanya. Nilainya bukan main: lebih dari enam gigawatt (GW), cukup untuk memasok listrik bagi sekitar lima juta rumah tangga. Dengan langkah ini, Meta resmi menjadi pembeli daya nuklir terbesar di antara para hyperscaler—perusahaan teknologi penyedia infrastruktur cloud berskala global.
Seperti dikutip Bloomberg Internasional, Jumat (9/1/2026), kesepakatan ini menegaskan satu kenyataan yang kian sulit diabaikan: pasokan listrik kini menjadi hambatan utama dalam pengembangan kecerdasan buatan. Bukan lagi semata soal chip atau algoritma, melainkan daya yang mampu mengalir tanpa henti.
Meta mengumumkan akan membeli listrik dari tiga pembangkit nuklir milik Vistra Corp. yang telah beroperasi, sekaligus mendukung pembangunan sejumlah reaktor kecil generasi baru. Reaktor itu dikembangkan oleh Oklo Inc.—perusahaan yang didukung CEO OpenAI Sam Altman—serta TerraPower LLC, perusahaan energi nuklir yang didirikan Bill Gates. Kesepakatan ini menyusul perjanjian terpisah dengan Constellation Energy Corp. pada Juni 2025.
Langkah Meta terjadi di tengah lonjakan permintaan listrik di Amerika Serikat, yang diperkirakan meningkat setidaknya 30 persen pada 2030. Pusat data menjadi penyumbang terbesar lonjakan tersebut. Namun, perusahaan listrik kesulitan mengejar kebutuhan itu, terutama ketika pembangunan pembangkit baru kerap tersendat oleh izin, biaya, dan waktu.
Bagi perusahaan teknologi, pilihan energi pun menjadi dilema. Proyek gas alam relatif cepat dibangun, tetapi bertentangan dengan komitmen iklim jangka panjang. Energi terbarukan seperti surya dan angin ramah lingkungan, namun tak selalu tersedia setiap saat. Di titik inilah nuklir kembali dilirik: bersih secara karbon dan mampu menyediakan listrik 24 jam tanpa jeda.
Upaya Meta kini melampaui Amazon, Alphabet, dan Microsoft yang sebelumnya juga meneken kesepakatan energi nuklir. Kepala Energi Global Meta, Urvi Parekh, menyebut perjanjian ini sebagai upaya menyelamatkan pembangkit nuklir lama dari penutupan sekaligus mendorong investasi awal untuk reaktor generasi baru.
“Jika kita tidak dapat menghasilkan lebih banyak listrik, kemampuan AI untuk tumbuh akan terhambat,” kata Parekh. Menurut dia, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan jaringan listrik memiliki cukup opsi dan fleksibilitas seiring pertumbuhan AI yang sangat cepat.
Kesepakatan ini juga tak terpisahkan dari ambisi besar CEO Meta, Mark Zuckerberg. Ia berulang kali menyatakan kesiapannya menggelontorkan ratusan miliar dolar hingga akhir dekade ini demi membangun infrastruktur AI. Dua proyek andalan Meta adalah Prometheus—kluster pusat data satu gigawatt di Ohio—serta Hyperion di Louisiana, yang kelak bisa berkembang hingga lima gigawatt dan ditargetkan beroperasi pada 2028.
Hyperion diproyeksikan menjadi pusat data AI terbesar Meta. Ironisnya, dalam jangka pendek pusat data ini tetap bergantung pada pembangkit gas alam. Energi nuklir yang kini diamankan Meta akan menjadi penopang jangka panjang, sekaligus penyeimbang antara ambisi AI dan komitmen iklim.
Detail kesepakatannya menunjukkan skala taruhan Meta. Dari Vistra, Meta akan membeli lebih dari 2,1 GW listrik dari reaktor Davis-Besse dan Perry di Ohio, ditambah ratusan megawatt dari peningkatan kapasitas dan fasilitas di Pennsylvania. Dari Oklo, Meta mengamankan hingga 1,2 GW dari reaktor kecil yang ditargetkan beroperasi mulai 2030. Sementara TerraPower akan memasok hingga 690 MW dari dua reaktor awal, dengan opsi tambahan dari proyek-proyek berikutnya.
Di balik semua itu, tersimpan satu kesimpulan penting: AI bukan hanya soal kecerdasan digital, tetapi juga soal sumber daya fisik. Model-model AI generatif membutuhkan komputasi masif yang berjalan tanpa henti. Pusat data harus menyala siang dan malam, dan jaringan listrik nasional kian terbebani.
Komitmen Meta terhadap nuklir menunjukkan bahwa dalam perlombaan menuju superintelligence—AI yang melampaui kemampuan manusia—energi telah menjadi variabel krusial, setara dengan chip semikonduktor. Atom, yang dulu simbol ketakutan dan kehancuran, kini kembali dipeluk sebagai fondasi masa depan kecerdasan buatan.

