Teheran (Tutur.co.id) — Media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan peluncuran serangan terbaru yang mereka sebut sebagai “gelombang ke-66” dalam rangkaian Operasi Janji Sejati 4 terhadap Israel dan target lain di Kawasan Teluk.
Dalam laporan tersebut, Iran mengklaim menggunakan sistem senjata “super berat” dengan kemampuan multi-hulu ledak (multiple warhead), yang diluncurkan secara bersamaan menuju sejumlah target strategis.
Namun, hingga saat ini, tidak ada konfirmasi independen dari otoritas internasional maupun laporan media global arus utama yang secara spesifik menyebut “gelombang 66” tersebut.
Iran Memang Gunakan Rudal Multi-Warhead
Meski klaim detail IRIB belum terverifikasi, penggunaan rudal dengan multi-hulu ledak bukan hal baru dalam konflik ini.
Laporan internasional menyebut Iran sebelumnya telah meluncurkan rudal dengan beberapa hulu ledak ke wilayah Israel dalam eskalasi terbaru.
Sistem seperti varian Khorramshahr missile diketahui memiliki kapasitas membawa muatan besar, bahkan disebut mampu membawa beberapa hulu ledak dalam konfigurasi tertentu.
Teknologi ini dirancang untuk menembus sistem pertahanan udara (seperti Iron Dome/Arrow), meningkatkan peluang mengenai target, atau menyebarkan submunisi (cluster effect).
Bagian dari Strategi Saturation Attack
Iran dalam beberapa hari terakhir memang konsisten menggunakan istilah “wave” (gelombang) untuk serangan beruntun. Sebelumnya tercatat hingga “gelombang 40–50-an” dalam operasi yang sama. Tiap gelombang biasanya berupa salvo rudal plus drone ke banyak target sekaligus.
Strategi ini dikenal sebagai saturation attack, membanjiri pertahanan lawan dengan jumlah proyektil besar dalam waktu singkat sehingga akan membuat bingung sistem pertahanan lawan.

