Jakarta (tutur.co.id)- Momen Salat Id selalu identik dengan kebersamaan. Sejak pagi, umat Muslim berbondong-bondong menuju lapangan atau masjid, membawa perlengkapan ibadah dari rumah. Suasananya hangat, penuh senyum, dan rasa syukur setelah menjalani Ramadan.
Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian. Setelah Salat Id selesai, tidak sedikit lokasi yang dipenuhi sampah—mulai dari alas sekali pakai, botol minum, hingga plastik kecil yang tertinggal.
Tanpa disadari, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara massal ini bisa menimbulkan dampak besar bagi lingkungan. Padahal, dengan sedikit perubahan, Salat Id bisa tetap nyaman tanpa meninggalkan jejak sampah berlebih.
Berikut lima kebiasaan kecil yang bisa mulai diterapkan untuk membuat Salat Id lebih ramah lingkungan.
Bawa Sajadah bukan Koran
Pertama, membawa sajadah atau alas salat yang bisa digunakan berulang. Banyak orang masih menggunakan koran atau plastik sebagai alas, yang umumnya langsung dibuang setelah digunakan. Mengganti dengan sajadah lipat atau alas berbahan kain bukan hanya lebih nyaman, tapi juga mengurangi sampah sekali pakai secara signifikan.
Bawa Tumbler
Kedua, membawa botol minum sendiri. Di tengah cuaca pagi yang hangat dan keramaian, kebutuhan minum sering kali dipenuhi dari air kemasan sekali pakai. Membawa tumbler dari rumah bisa menjadi solusi sederhana untuk mengurangi penggunaan botol plastik.
Bawa Pouch Sandal
Ketiga, menggunakan kantong sandal yang dapat dipakai ulang. Plastik kresek masih menjadi pilihan praktis untuk menyimpan sandal saat Salat Id. Padahal, tas kain kecil atau pouch sederhana bisa digunakan berkali-kali dan lebih ramah lingkungan.
Jangan Buang Sampah Sembarangan
Keempat, membiasakan diri membawa pulang sampah sendiri. Kebiasaan ini mungkin terlihat sepele, namun dampaknya besar jika dilakukan bersama. Dengan tidak meninggalkan sampah di lokasi, kebersihan area Salat Id dapat tetap terjaga tanpa membebani petugas kebersihan.
Tidak Bawa Kendaraan
Kelima, memilih berjalan kaki atau berbagi kendaraan. Selain mengurangi kemacetan dan emisi, berjalan kaki menuju lokasi Salat Id juga bisa menjadi aktivitas fisik ringan yang menyehatkan. Bagi yang jaraknya cukup jauh, berbagi kendaraan dengan keluarga atau tetangga bisa menjadi alternatif yang lebih efisien.
Kebiasaan-kebiasaan ini mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan oleh banyak orang secara konsisten, dampaknya akan terasa nyata. Salat Id bukan hanya tentang merayakan kemenangan setelah Ramadan, tetapi juga momentum untuk membawa nilai-nilai kebaikan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga kebersihan dan mengurangi sampah adalah bagian dari iman dan tanggung jawab bersama. Dari satu sajadah yang dibawa pulang, satu botol yang digunakan kembali, hingga satu langkah kaki menuju tempat ibadah—semuanya bisa menjadi awal perubahan.
Kembali ke fitri juga berarti kembali pada kesadaran untuk menjaga apa yang telah dititipkan, termasuk lingkungan tempat kita hidup.

