Paris (Tutur.co.id) – Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa negaranya tidak akan terlibat dalam operasi militer untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Macron dalam rapat Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Prancis pada Selasa (17/3/2026), yang secara khusus membahas perkembangan situasi di Iran dan kawasan sekitarnya.
“Kami bukan pihak yang terlibat dalam konflik tersebut. Oleh karena itu, Prancis tidak akan terlibat dalam operasi untuk membuka atau membebaskan Selat Hormuz dalam kondisi saat ini,” ujar Macron.
Sikap tersebut muncul setelah sebelumnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Macron telah menyampaikan kesediaan untuk membantu menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Pada 14 Maret, Trump juga menyerukan kepada sejumlah negara, termasuk China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, untuk mengirimkan kapal perang guna mengamankan jalur pelayaran strategis tersebut.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa di pihak sipil.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi konflik tersebut berdampak pada terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Gangguan ini turut mempengaruhi ekspor serta produksi energi di kawasan, sekaligus meningkatkan kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

