London (Tutur.co.id) – Inggris akan menjadi tempat berkumpulnya 35 negara untuk membahas gonjang ganjing penutupan Selat Hormuz. Pasalnya, dunia kini terancam krisis energi akibat blokade Iran jalur perdagangan di Timur Tengah itu. Pertemuan yang akan dipimpin Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper
“Pertemuan ini akan membahas kemungkinan tindakan diplomatik dan politik yang dapat diambil untuk memulihkan kebebasan navigasi dan memastikan keselamatan kapal dan pelaut yang terdampar, dan melanjutkan arus barang-barang penting,” kata Perdana Menteri Keir Starmer dilansir dari New Arab, Kamis 2 April 2026.
Jalur vital Selat Hormuz ini, tempat sekitar seperlima minyak dunia melewatinya, telah ditutup secara efektif oleh Iran sebagai tanggapan atas serangan gabungan AS dan Israel terhadap negara tersebut, yang berlangsung sejak akhir Februari.
Sebagai balasan atas serangan AS-Israel, Iran juga berupaya menyerang kapal dan perahu yang mencoba melewatinya, menghentikan hampir semua lalu lintas di jalur air yang menghubungkan Teluk Arab ke samudra dunia. Alhasil harga minyak melonjak dan memicu kekhawatiran akan krisis energi global.
Menurut pernyataan resmi yang dikeluarkan Kantor Perdana Menteri Inggris, pertemuan tersebut akan menjadi langkah pertama untuk mengatasi krisis yang akan diikuti oleh pertemuan tingkat kerja guna membahas detail lebih lanjut.
Starmer juga menambahkan bahwa pertemuan ini juga akan membicarakan kemungkinan terburuk termasuk dengan membentuk front persatuan kekuatan militer.
Amerika Serika Tak Mau Gabung
AS tidak akan menghadiri pertemuan tersebut, setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa bukan tugas Washington untuk memastikan keamanan Selat tersebut, dan mengatakan negara-negara harus mencari minyaknya sendiri.
Ia justru seakan menyalahkan sekutu AS karena tidak mendukung serangan mereka di sana, dan mengancam akan menarik AS keluar dari NATO karena kurangnya dukungan yang diterimanya terkait hal tersebut.
Negara-negara Barat sejauh ini menyatakan keengganan untuk melakukan serangan apa pun di Selat Hormuz karena perang masih berkecamuk. Negara-negara yang berpartisipasi termasuk Prancis, Jerman, Italia, dan Belanda, Australia, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, UEA, dan Nigeria.
Meskipun demikian, Garda Revolusi Iran bersikeras bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup bagi musuh negara itu, karena Trump mengatakan dia hanya akan mempertimbangkan gencatan senjata jika selat itu dibuka kembali.

