New York (Tutur.co.id) – Piala Dunia 2026 resmi berakhir setelah Spanyol keluar sebagai juara dunia usai mengalahkan Argentina dengan skor 1-0 pada partai final, Senin (20/7/2026). Gol telat Ferran Torres memastikan La Furia Roja mengangkat trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah.
Turnamen edisi ke-23 ini menghadirkan banyak momen bersejarah. Dari kemunculan Tanjung Verde (Cape Verde) sebagai kejutan baru di panggung sepak bola dunia hingga Kylian Mbappe yang mengukuhkan diri sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.
Di balik berbagai cerita di lapangan, Piala Dunia 2026 juga dipenuhi kontroversi di luar pertandingan. Meski Presiden FIFA Gianni Infantino menyebut edisi kali ini sebagai Piala Dunia terbaik sepanjang sejarah, dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menyuarakan klaim serupa, tidak sedikit pihak yang mempertanyakan apakah turnamen ini benar-benar sukses.
FIFA Raih Keuntungan Besar
Dari sisi bisnis, Piala Dunia 2026 menjadi pencapaian luar biasa bagi FIFA. Menurut laporan The Guardian, turnamen ini menghasilkan pendapatan sekitar 15 miliar dolar AS (sekitar Rp243 triliun), jauh melampaui proyeksi awal FIFA yang memperkirakan pemasukan sebesar 11 miliar dolar AS.
Lonjakan pendapatan tersebut didorong oleh sejumlah faktor, mulai dari kenaikan harga tiket, perluasan jumlah peserta menjadi 48 tim, hingga berbagai kerja sama komersial yang semakin agresif.
Bagi Gianni Infantino, keberhasilan finansial ini menjadi bukti bahwa kebijakan memperluas format Piala Dunia berjalan sesuai harapan. Selain meningkatkan pemasukan, keputusan tersebut juga memberi kesempatan lebih banyak negara tampil di putaran final, sehingga mendapat dukungan luas dari asosiasi anggota FIFA.
Keberhasilan itu dinilai semakin memperkuat posisi Infantino sebagai Presiden FIFA untuk beberapa tahun ke depan.
Final yang Dinilai Kurang Menghibur
Meski sukses secara finansial, pertandingan final justru menuai kritik. Laga Spanyol kontra Argentina dianggap gagal menghadirkan drama yang diharapkan banyak pecinta sepak bola. Tidak sedikit pengamat yang menyebutnya sebagai salah satu final Piala Dunia paling membosankan dalam beberapa dekade terakhir.
FIFA juga memperkenalkan sejumlah perubahan, seperti pertunjukan hiburan saat jeda babak pertama (half-time show) dan jeda minum (hydration break) yang membuat pertandingan terasa terbagi menjadi empat bagian. Langkah tersebut dinilai lebih ditujukan untuk menarik perhatian penonton Amerika Serikat yang belum terbiasa mengikuti sepak bola.
Namun, gaya bermain Spanyol yang sangat disiplin dan efektif membuat laga final minim hiburan. Situasi semakin memanas setelah muncul insiden tidak menyenangkan dari kubu Argentina seusai peluit panjang dibunyikan.
Donald Trump Tak Lepas dari Kontroversi
Jika FIFA menikmati keuntungan besar, cerita berbeda justru dialami Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Sepanjang turnamen, Trump beberapa kali menjadi sorotan karena dianggap terlalu jauh mencampuri urusan sepak bola.
Kontroversi terbesar muncul ketika ia secara terbuka meminta FIFA meninjau kartu merah yang diterima penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, saat menghadapi Bosnia-Herzegovina pada babak 32 besar.
Tak lama kemudian, hukuman Balogun benar-benar dibatalkan. Trump bahkan secara terbuka mengklaim dirinya berperan dalam keputusan tersebut.
Peristiwa itu memicu kritik tajam karena dinilai membuka preseden bahwa tokoh politik dapat memengaruhi keputusan olahraga yang seharusnya independen.
Kontroversi lain terjadi saat Trump tetap berdiri di atas panggung ketika para pemain Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia. Momen tersebut dianggap janggal hingga Federasi Sepak Bola Spanyol dilaporkan menghapus sosok Trump dari sejumlah foto perayaan resmi.
Kebijakan Imigrasi Jadi Sorotan
Citra Amerika Serikat sebagai tuan rumah juga tercoreng akibat persoalan kebijakan imigrasi. Pendukung dari Haiti, Iran, Pantai Gading, dan Senegal dilaporkan mengalami kesulitan memperoleh visa untuk menyaksikan pertandingan secara langsung.
Bahkan wasit asal Somalia, Omar Artan, tidak dapat memasuki Amerika Serikat sehingga gagal bertugas di Piala Dunia. Iran menjadi negara yang paling terdampak. Tim nasional mereka harus memindahkan basis latihan ke Meksiko setelah pertandingan pertama fase grup melawan Selandia Baru.
Selain itu, beberapa anggota staf pelatih Iran tidak memperoleh izin masuk ke Amerika Serikat, sehingga mengurangi kesiapan tim sepanjang turnamen. Situasi tersebut memunculkan kritik bahwa Piala Dunia 2026 semakin dipengaruhi faktor politik di luar sepak bola.

