Moskow (Tutur.co.id) – Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan menawarkan penghentian pemberian informasi intelijen kepada Iran dengan syarat Amerika Serikat melakukan langkah serupa terhadap Ukraina.
Usulan tersebut disampaikan melalui Utusan Khusus Putin, Kirill Dmitriev, dalam pertemuan dengan utusan AS Steve Witkoff serta Jared Kushner di Miami, Florida, pekan lalu. Informasi itu diungkap dalam laporan Politico Europe yang mengutip dua sumber anonim.
Namun, pemerintahan Trump dilaporkan menolak tawaran tersebut. Meski demikian, langkah itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat Eropa yang menilai Rusia berpotensi memanfaatkan situasi untuk memecah soliditas aliansi NATO. Seorang pejabat Uni Eropa bahkan menyebut usulan tersebut sebagai langkah yang “keterlaluan”.
Di sisi lain, Donald Trump juga melontarkan kritik tajam terhadap sekutu-sekutunya di NATO. Dalam pernyataannya di media sosial Truth Social, ia menilai aliansi tersebut akan menjadi “macan kertas” tanpa dukungan Amerika Serikat.
Trump juga mengkritik negara-negara sekutu yang dinilai tidak bersedia membantu upaya membuka kembali Selat Hormuz maupun menekan Iran terkait isu nuklir.
“Mereka tidak mau bergabung dalam upaya menghentikan Iran memiliki senjata nuklir. Kini setelah pertempuran dimenangkan secara militer dengan risiko kecil bagi mereka, mereka justru mengeluhkan harga minyak tinggi,” tulisnya.
Ia bahkan menyebut sebagian sekutu NATO enggan terlibat dalam operasi pembukaan Selat Hormuz, yang menurutnya merupakan langkah strategis untuk menstabilkan pasar energi global.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah sendiri terus meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan berupa drone dan rudal ke berbagai wilayah, sekaligus menutup secara efektif jalur pelayaran di Selat Hormuz, rute vital yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan gas alam cair global.

