Jakarta (Tutur.co.id) – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memaparkan laporan terkait arah dan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026, Jumat 13/2/2026. Menurut Menko Airlangga, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV/2025 mencapai 5,39%, tertinggi kedua di G20 setelah India.
Dalam laporannya di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Menko Airlangga menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia tetap menunjukkan kinerja positif meski dunia saat ini menghadapi perlambatan ekonomi, ketegangan geopolitik, serta dinamika suku bunga global.
“Pertumbuhan ekonomi global stagnan di 3 persen. Dari segi perdanganan bahkan turun di angka 2,4 persen. Namun Indonesia diantara negara G20 di kuartal keempat adalah nomor dua setelah India yang 7,4 persen,” kata Menko Airlangga di Auditorium Wisma Danantara.
Airlangga juga menambahkan bahwa sepanjang tahun lalu ekonomi tumbuh 5,11 persen didorong oleh konsumsi masyarakat. Dia menyebut ini merupakan bukti dari efektivitas stimulus ekonomi pada akhir tahun lalu.
Menurut Airlangga, struktur ekonomi Indonesia yang ditopang konsumsi domestik kuat menjadi faktor utama ketahanan nasional. Konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, serta investasi menjadi pilar utama yang menjaga laju pertumbuhan tetap stabil.
Di sisi lain, Menko Perekonomian sejak 2019 lalu itu mengatakan pertumbuhan ekonomi tinggi pada kuartal IV/2025 juga ditopang oleh stabilitas harga dan peningkatan mobilitas masyarakat.
Khusus mobilitas, Airlangga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi tiga bulan terakhir 2025 ditopang oleh libur Natal dan Tahun Baru, dia memperkirakan momentum bisa berlanjut pada kuartal I/2026 lantaran tidak lama lagi libur Idulfitri 2026.
“Ini pertama kalinya kuartal IV dan kuartal I back to back hari besar keagamaan, diharapkan selama pengalaman kita pada saat terjadi Lebaran pertumbuhan [ekonomi] tertinggi. Kami akan dorong terus pertumbuhan kuartal pertama,” pungkasnya.
Dalam proyeksi 2026, masih menurut Airlangga, pemerintah telah menargetkan pertumbuhan ekonomi tetap berada pada level yang kompetitif di kawasan Asia Tenggara.
Untuk mencapai target tersebut, sejumlah strategi disiapkan, antara lain penguatan hilirisasi industri dan peningkatan nilai tambah ekspor, percepatan investasi di sektor manufaktur dan energi terbarukan, eningkatan daya saing UMKM, transformasi digital di berbagai sektor ekonomi.
Strategi ini diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.

