Jakarta (Tutur.co.id) – Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf mencoba membaca peluang pergantian rezim di Iran seperti yang diharapkan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Menurut Faisal Assegaf, peluang itu sangat kecil terjadi mengingat rakyat Iran juga punya memori sangat kelam saat diperintah leluhur Reza Pahlavi.
“Pasti rakyat Iran punya memori yang sangat buruk (zaman Muhammad Reza Pahlavi). Dan dulu ada operasi intelijen yang bernama Savac yang melakukan penindasan. Dan Ayatollah Ali Khamenei juga pernah ditangkap di zaman Shah Iran. Artinya jika Trump mengatakan saat ini disebut rezim represif tak masuk akal dengan mengganti sistem kerajaan yang tentu otoriter,” kata Faisal Assegaf dalam acara podcast Bang Don Super Opini.
Karena alasan itu yang membuat Assegaf sangat yakin jika rencana AS dan Israel memberikan karpet merah untuk dinasti Pahlavi kembali mencengkeram Iran akan berujung sia-sia.
Saat disinggung apakah ada alternatif lain yang dapat menggantikan rezim Ayatollah Ali Khamenei yang kini diteruskan putranya Mojtaba Khamenei, Faisal Assegaf juga mengatakan sangat kecil kemungkinan.
“Sejauh ini tidak ada tokoh baru hanya tokoh reformis yang hanya kekuasaan eksekutif itu lebih adaptif terhadap perubahan masyarakatnya bukan untuk mengganti rezim,” kata Faisal Assegaf.
Faisal menambahkan, di Iran memang ada keterbelahan yang sifatnya hanya terkait cara pandang termasuk dengan cara berpakaian dan soal hijab.
Nah buat Kawan Tutur, saksikan perbincangan menarik antara Faisal Assegaf dengan Don Bosco Selamun dalam acara podcast Bang Don Super Opini yang akan tayang malam ini pukul 20.00 WIB di Tutur TV.

