Teheran (Tutur.co.id) – Lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz dilaporkan turun drastis hingga 90 persen sejak dimulainya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Data ini disampaikan perusahaan analisis pasar energi Kpler pada Rabu, 4 Maret 2026.
Mengutip laporan IranWire, juru bicara angkatan bersenjata Iran menyatakan bahwa pergerakan kapal di jalur strategis tersebut telah dihentikan sepenuhnya. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk Persia.
Namun data sistem pelacakan maritim menunjukkan sebagian kapal masih melintas di selat itu. Analis senior pengiriman Kpler, Matt Wright, mengatakan beberapa kapal tetap bergerak ke arah timur dan barat melalui Selat Hormuz.
Menurut Wright, sebagian kapal bahkan mematikan sistem pelacakan otomatis mereka selama melintasi wilayah tersebut. Langkah ini biasanya dilakukan untuk mengurangi risiko keamanan di tengah situasi konflik.
Di saat yang sama, sejumlah perusahaan asuransi maritim besar dilaporkan telah mengurangi atau membatalkan perlindungan risiko perang bagi kapal yang beroperasi di Teluk Persia, sehingga pelayaran melalui Selat Hormuz menjadi semakin berbahaya.
Sementara itu Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai mengawal kapal tanker yang melewati Selat Hormuz guna menjaga keamanan jalur perdagangan energi global.

