Jakarta (tutur.co.id) — Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai mulai terbatas setelah sebelumnya tertekan oleh berbagai sentimen global. Fase koreksi yang terjadi saat ini justru dipandang sebagai momentum bagi investor untuk melakukan akumulasi saham secara lebih terukur.
CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya mengatakan tekanan yang terjadi di pasar saham domestik lebih banyak dipicu faktor eksternal dibandingkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Menurut dia, meningkatnya ketidakpastian global dipengaruhi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, penurunan outlook Indonesia oleh sejumlah lembaga internasional, serta pembekuan sementara penambahan konstituen baru oleh MSCI Inc. dan FTSE Russell.
Meski demikian, Bernadus mengingatkan investor agar merespons situasi pasar secara rasional dan tidak terjebak kepanikan jangka pendek.
“Kondisi koreksi seperti ini justru dapat menjadi peluang bagi investor jangka menengah hingga panjang untuk masuk pada valuasi yang lebih menarik,” ujarnya.
Ia menilai ruang koreksi IHSG semakin terbatas dengan area support berada pada kisaran 7.239 hingga 7.000. Level tersebut dinilai dapat menjadi titik awal akumulasi saham-saham berfundamental kuat secara bertahap.
Optimisme terhadap pemulihan pasar juga didorong oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menilai konflik geopolitik tidak akan berlangsung lama. Selain itu, berbagai reformasi yang dilakukan Bursa Efek Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan untuk memenuhi standar indeks global dinilai dapat meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia.
Pada perdagangan Selasa (10/3/2026), IHSG ditutup menguat 1,41% ke level 7.440,9, setelah sempat mengalami koreksi tajam pada hari sebelumnya. Penguatan tersebut didorong oleh rebound harga komoditas, penguatan indeks bursa global, serta technical rebound.
Seluruh sektor saham tercatat menguat, dengan penguatan terbesar terjadi pada sektor barang baku seiring rebound harga emas. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah juga menguat di kisaran Rp16.855 per dolar AS.
Secara teknikal, analis Phintraco Sekuritas menilai indikator Stochastic RSI masih berada di area oversold dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat. Histogram negatif pada indikator MACD juga masih berlanjut, sementara IHSG masih berada di bawah level MA5.
“Diperkirakan jika IHSG dapat ditutup di atas level 7.500, maka terbuka peluang rebound lanjutan menguji level 7.600,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.
Dari sisi domestik, data penjualan ritel Indonesia tercatat tumbuh 5,7% secara tahunan pada Januari 2026, meningkat dari 3,5% pada Desember 2025 dan melampaui perkiraan pasar sebesar 4%. Pertumbuhan tersebut diperkirakan berlanjut pada Februari 2026 seiring momentum Imlek, awal Ramadan, serta menjelang Idulfitri.
Sementara dari Amerika Serikat, pelaku pasar menanti rilis data inflasi Februari 2026 yang diperkirakan berada di level 2,4% secara tahunan, dengan inflasi inti (core CPI) sekitar 2,5%.
Untuk perdagangan Rabu (11/3/2026), Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk trading, yakni INKP, ASII, INDY, MBMA, dan TINS.

