Jakarta (tutur.co.id) – Keputusan mundurnya Nanik S Deyang dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang disusul dengan penunjukan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono sebagai penggantinya masih menjadi perhatian publik termasuk di media sosial.
Pernyataan Nanik yang menyebut Sudaryono sebagai “adik” yang bisa ia “jewer” jika ada penyimpangan, serta balasan Sudaryono yang menganggap Nanik sebagai “bude dari anak-anaknya,” langsung digoreng warganet.

Sejumlah netizen menyoroti bahwa pengawasan lembaga negara yang mengurus program strategis publik tidak bisa diselesaikan hanya dengan kedekatan personal atau hanya dengan “jewer-jeweran” saja.
“Ini lembaga negara pengelola anggaran triliunan untuk gizi anak, kok mekanisme pengawasannya pakai ‘jewer telinga’? Harus ada audit resmi dan transparansi, bukan tradisi kakak-adik!” tulis salah satu akun di X (Twitter).
Netizen menilai akuntabilitas BGN harus berdiri di atas hukum dan sistem pengawasan resmi, bukan atas dasar kedekatan personal. Bahkan beberapa warganet mengkritik tradisi bagi-bagi jabatan yang dinilai masih kental dengan nuansa kekeluargaan atau hubungan dekat di lingkaran kekuasaan.
“Bayangin lagi rapat evaluasi anggaran, bukannya kena SP3 malah dipanggil ke pojokan terus dijewer budenya,” tulis seorang warganet di platform X. “Nanti kalau program Makan Bergizi Gratis (MBG) ada masalah, selesaikan pas arisan keluarga hari Minggu aja ya.” unggahan kocak lainnya.
Meski diwarnai guyonan dan kritik pedas, masyarakat luas berharap perombakan pimpinan di BGN tetap membawa dampak positif bagi pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Publik menuntut Sudaryono sebagai Kepala BGN yang baru untuk membuktikan kinerjanya secara profesional tanpa dibayang-bayangi isu kedekatan personal semata.

