Jakarta (tutur.co.id) — Harga kontrak crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives menguat signifikan pada perdagangan Jumat (27/3/2026), ditopang pelemahan nilai tukar ringgit yang meningkatkan daya tarik ekspor. Meski demikian, secara mingguan harga CPO diperkirakan mencatat penurunan pertama dalam empat pekan terakhir akibat ketidakpastian global yang masih tinggi.
Berdasarkan data penutupan, kontrak CPO April 2026 naik 39 ringgit menjadi 4.540 ringgit per ton. Penguatan juga terjadi pada kontrak Mei yang naik ke 4.611 ringgit per ton, diikuti kontrak Juni yang mencapai 4.631 ringgit per ton. Sementara itu, kontrak Juli, Agustus, hingga September 2026 masing-masing turut menguat, mencerminkan sentimen positif jangka pendek di pasar.
Mengacu data TradingView, secara keseluruhan dalam sepekan harga CPO justru terkoreksi sekitar 0,30%. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan harian belum mampu mengimbangi tekanan yang terjadi sepanjang minggu.
Direktur perusahaan pialang Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, menilai pasar masih dibayangi ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah serta arah pergerakan harga minyak mentah dunia. “Pasar saat ini masih mencerminkan ketidakpastian terkait konflik yang berlangsung serta arah pergerakan harga minyak mentah berikutnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelemahan ringgit menjadi faktor penopang utama yang menjaga harga CPO tetap menguat dalam jangka pendek. Mata uang yang lebih lemah membuat harga komoditas menjadi lebih kompetitif di pasar global, sehingga mendorong permintaan ekspor.
Di pasar komoditas lain, pergerakan minyak nabati pesaing juga menunjukkan tren penguatan. Kontrak minyak kedelai di Dalian tercatat naik 0,67%, sementara kontrak minyak sawitnya menguat 1,38%. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga naik tipis 0,1%. Pergerakan ini penting karena harga CPO cenderung mengikuti dinamika minyak nabati lain yang bersaing dalam pasar global.
Dengan kombinasi faktor eksternal seperti geopolitik dan harga energi, serta faktor internal seperti nilai tukar, harga CPO diperkirakan masih bergerak volatil dalam jangka pendek. Pelaku pasar pun akan terus mencermati perkembangan konflik global dan arah harga minyak mentah sebagai penentu utama tren berikutnya.

