Jakarta (Tutur.co.id) – Dampak konflik Timur Tengah semakin terasa. Terbaru, Filipina yang menjadi negara tetangga Indonesia telah mengumumkan darurat energi. Bagaimana dengan Indonesia?
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) lewat juru bicaranya Dwi Anggia mengatakan jika kondisi pasokan energi Indonesia masih aman, baik untuk bahan bakar minyak (BBM) maupun LPG.
“Untuk kondisi Indonesia, pasokan energi nasional saat ini dalam kondisi aman dan terkendali, baik untuk BBM maupun LPG,” kata Dwi Anggia dilansir dari ANTARA, Kamis 26 Maret 2026.
Dwi Anggia menyampaikan pemerintah terus memantau secara cermat dinamika global, termasuk perkembangan di kawasan Timur Tengah. Kementerian ESDM bersama seluruh pemangku kepentingan, telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk memastikan keandalan pasokan energi tetap terjaga.
“Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar seluruh jajaran melakukan pengelolaan energi secara optimal dan adaptif terhadap dinamika global,” kata Anggia.
Salah satu langkah antisipatif itu adalah penguatan monitoring pasokan dan distribusi energi secara nasional, demikian juga dengan diversifikasi sumber pasokan energi.
“Yang juga perlu diperhatikan adalah pengelolaan konsumsi energi yang lebih bijak dan efisien,” ucap Anggia.
Ia menyampaikan seluruh langkah ini bersifat antisipatif dan preventif, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir. “Aktivitas ekonomi dan kebutuhan energi masyarakat tetap menjadi prioritas utama untuk dijaga,” ujar Anggia.
Pemerintah Filipina pada Selasa (24/3) menjadi negara pertama yang resmi mengumumkan keadaan darurat nasional akibat gangguan rantai pasok energi global menyusul konflik di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan GMA News, Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah menandatangani perintah eksekutif yang secara formal memberlakukan keadaan darurat dan mengaktifkan respons nasional untuk memulihkan kestabilan pasokan energi dan mencegah dampak ekonomi dari kenaikan harga bahan bakar.
Adapun Filipina mendatangkan hampir 26 persen dari kebutuhan energi nasionalnya dari kawasan Timteng, dengan total anggaran yang dihabiskan untuk energi Timteng pada 2024 mencapai 16 miliar dolar AS.

