Jakarta (tutur.co.id) — Presiden Prabowo Subianto memberikan respons tegas terhadap prediksi sejumlah pengamat yang menyebut perekonomian Indonesia berpotensi terpuruk akibat dinamika global.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (13/3/2026), Prabowo menilai pandangan tersebut terlalu sempit dan tidak mencerminkan kondisi ekonomi nasional yang sebenarnya masih berada di jalur positif.
“Menurut saya, sikap mereka itu sikap yang sempit, bukan sikap patriotik,” kata Prabowo saat memberikan arahan kepada jajaran Kabinet Merah Putih.
Presiden menduga ada motif tertentu di balik sejumlah analisis negatif tersebut. Ia menyebut sebagian kritik terhadap pemerintah muncul karena pihak tertentu tidak senang melihat keberhasilan program pemerintah.
Prabowo bahkan mengisyaratkan bahwa pemerintah telah mengantongi informasi terkait pihak-pihak yang berada di balik narasi pesimistis tersebut.
“Saya sudah tahu siapa yang biayai. Pada saatnyalah kita tertibkan itu semua,” ujarnya.
Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa perbedaan pendapat tetap merupakan bagian dari demokrasi. Namun setelah kontestasi politik selesai, ia menilai seluruh elemen bangsa seharusnya bersatu menjaga stabilitas negara.
Menurutnya, Indonesia ibarat sebuah kapal besar yang sedang berlayar di tengah dinamika geopolitik global yang penuh tantangan.
“Harusnya negara ini, kalau sudah selesai pertandingan-pertandingan (politik) itu kita bersatu kompak, kita selamatkan kapal besar kita. Kapal yang namanya Republik Indonesia ini mengarungi lautan yang penuh karang dan bahaya,” tutur Prabowo.
Sejalan dengan optimisme presiden, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan bahwa sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan tren akselerasi.
Salah satunya terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang mencapai level 53,8 pada Februari 2026. Angka tersebut menandakan sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi.
Purbaya juga menekankan bahwa pemerintah memiliki pengalaman dalam mengelola berbagai gejolak ekonomi global melalui kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang fleksibel.
Karena itu, menurutnya, kekhawatiran bahwa ekonomi Indonesia akan “hancur” tidak didukung oleh data fundamental yang ada.

