Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali melemah pada perdagangan Selasa (10/3/2026) di tengah tekanan eksternal yang berasal dari lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Pada perdagangan Senin (9/3/2026) sore, rupiah ditutup melemah 24 poin terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda berakhir di level Rp16.949 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 70 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.925 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya akan cenderung fluktuatif namun tetap berada dalam tren pelemahan.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.950 hingga Rp17.000,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari lonjakan harga minyak global yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Ketegangan geopolitik tersebut mendorong harga minyak melonjak hingga lebih dari 30% dan menembus level di atas US$100 per barel, mendekati posisi tertinggi sejak 2022.
Selain itu, prospek rupiah juga dibayangi potensi gangguan distribusi energi global akibat penutupan Selat Hormuz. Jalur laut strategis tersebut selama ini menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia, sehingga gangguan di kawasan itu berpotensi menghambat pasokan energi ke berbagai negara.
Lonjakan harga energi dikhawatirkan akan memicu tekanan inflasi global yang pada akhirnya turut mempengaruhi stabilitas mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Di kawasan Asia, tekanan tambahan juga datang dari meningkatnya inflasi di China. Data pemerintah menunjukkan inflasi indeks harga konsumen (CPI) China tumbuh 1,3% secara tahunan pada Februari 2026. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan pasar yang sebesar 0,9% serta menjadi laju kenaikan tercepat dalam tiga tahun terakhir.
Ibrahim menilai ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan juga dapat memperburuk kondisi pasar energi global. Ia bahkan memperingatkan bahwa harga minyak mentah berpotensi melonjak lebih tinggi apabila konflik tidak segera mereda.
“Terjadinya pengurangan produksi mendorong lonjakan tinggi harga minyak mentah dunia yang kemungkinan besar akan mencapai level US$200 per barel apabila dalam jangka waktu satu bulan belum ada penyelesaian tentang krisis,” kata Ibrahim.

