Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (3/3/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup merosot 218,65 poin atau 2,65% ke level 8.016,8. Tekanan pasar muncul seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, menyusul konflik Iran yang telah memasuki hari keempat.
Sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan. Bursa Asia-Pasifik kompak melemah pada pagi hari, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak lanjutan konflik terhadap stabilitas ekonomi global. Di sisi lain, indeks-indeks utama Wall Street berhasil bangkit dari tekanan tajam pada awal pekan. Pelaku pasar memanfaatkan pelemahan sebagai momentum buy on dip setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran akhir pekan lalu.
Di tengah volatilitas tersebut, sejumlah sekuritas merilis rekomendasi saham untuk strategi trading jangka pendek.
Rekomendasi Mandiri Sekuritas
Mandiri Sekuritas merekomendasikan aksi beli pada beberapa saham berikut:
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): target 10.200, stop loss 9.800.
PT Indika Energy Tbk (INDY): target 4.340, stop loss 4.210.
PT Archi Indonesia Tbk (ARCI): target 2.100, stop loss 1.975.
Rekomendasi BNI Sekuritas
BNI Sekuritas melihat peluang pada saham energi dan emas, di antaranya:
PT Elnusa Tbk (ELSA) dengan target hingga 1.100.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) target 4.720.
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) target 1.045.
PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) target 790.
PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) target 290.
PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) target 450.
Rekomendasi MNC Sekuritas
MNC Sekuritas menilai pasar masih fluktuatif dengan pendekatan selektif:
PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) target 3.660.
PT XL Axiata Tbk (EXCL) target 3.490.
PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) target 635.
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) direkomendasikan sell on strength di kisaran 5.175–5.225, mengingat potensi koreksi lanjutan.
Secara umum, saham berbasis komoditas seperti energi dan emas masih menjadi sorotan di tengah lonjakan harga minyak dan emas dunia akibat ketidakpastian global. Namun, analis mengingatkan volatilitas tinggi masih membayangi pasar, sehingga disiplin pada level stop loss menjadi kunci dalam strategi perdagangan jangka pendek.

