Jakarta (Tutur.co.id) – Pengamat militer dan Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, memberikan tanggapan terkait situasi terkini di Iran. Terlebih dengan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut Khairul Fahmi, kematian Ayatollah Ali Khamenei secara psikologis dan politis memang merupakan pukulan telak bagi Teheran, namun meremehkan kapasitas militer Iran pasca-serangan ini adalah sebuah kesalahan fatal.
“Infrastruktur pertahanan dan sistem komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah lama dirancang dengan skenario terburuk, termasuk untuk tetap beroperasi di bawah skenario decapitation strike atau pemenggalan pucuk pimpinan,” kata Fahmi kepada Tutur.co.id.
Masih menurut Khairul Fahmi, karakter doktrin militer Iran sangatlah pragmatis dan kalkulatif. Hilangnya figur sentral tidak akan melumpuhkan rantai komando operasional mereka di lapangan, melainkan justru memicu aktivasi protokol respons krisis berjenjang yang sudah dipersiapkan secara matang selama bertahun-tahun.
Dalam mengeksekusi balasan, kata Fahmi, Teheran kemungkinan besar tidak akan terpancing untuk meluncurkan perang konvensional terbuka yang bersifat bunuh diri. Alih-alih merespons dengan luapan emosi sesaat, Iran akan mengandalkan kekuatan utamanya: pukulan asimetris yang tersinkronisasi.
“Mereka akan mengorkestrasi serangan multi-front dengan mengaktifkan jaringan proksi poros perlawanan (axis of resistance) yang membentang dari Lebanon, Suriah, Irak, hingga Yaman. Sinkronisasi gerakan milisi regional ini dirancang untuk mengepung kekuatan lawan, menguras konsentrasi pertahanan, dan menekan urat nadi keamanan sekutu Barat di kawasan tanpa harus melibatkan konfrontasi head-to-head secara langsung,” katanya.
Secara taktis, lebih lanjut Fahmi menjelaskna, elemen pergerakan proksi tersebut akan dipadukan dengan pengerahan persenjataan konvensional andalan Iran secara masif, khususnya tembakan rudal balistik jarak menengah dan drone swarm (kawanan pesawat nirawak). Volume serangan gabungan ini dikalkulasi secara presisi untuk mencapai titik saturasi sistem pertahanan udara lawan.
“Namun, manuver mematikan ini bukanlah tujuan akhir. Eskalasi terukur ini sejatinya dirancang untuk memulihkan efek gentar (deterrence) dan menaikkan kembali daya tawar (leverage) Teheran pasca kematian pemimpinnya,” kata Fahmi.
Pukulan balasan ini sebenarnya adalah instrumen geopolitik garis keras. Sebuah pemaksaan agar kebuntuan pecah, dan Washington beserta sekutunya mau tidak mau harus menyetujui syarat untuk kembali duduk di meja perundingan.

