Jakarta (tutur.co.id) — Di tengah gejolak pasar keuangan global sepanjang 2025, kabar dari sektor eksternal Indonesia datang dengan nada yang lebih tenang. Bank Indonesia (BI) melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) masih mencatat defisit US$ 1,5 miliar. Namun, angka itu jauh lebih kecil dibandingkan defisit tahun sebelumnya yang mencapai US$ 8,6 miliar.
Bagi otoritas moneter, ini bukan sekadar angka. Ini adalah sinyal bahwa daya tahan eksternal Indonesia masih terjaga, bahkan ketika arus modal global bergerak liar mengikuti dinamika suku bunga dan ketegangan geopolitik.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebut perbaikan tersebut ditopang oleh ekspor yang membaik, terutama dari sektor manufaktur. Produk-produk olahan Indonesia kembali menemukan pasarnya, menopang surplus perdagangan barang yang lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya.
Di saat yang sama, remitansi dari Pekerja Migran Indonesia turut memberi napas tambahan bagi neraca pendapatan sekunder. Aliran dana dari luar negeri ini menjadi bantalan yang membantu menahan tekanan eksternal.
Tantangan Masih Ada
Meski demikian, bukan berarti seluruh komponen neraca bergerak seirama. Defisit pada neraca jasa melebar, terutama karena meningkatnya kebutuhan jasa telekomunikasi seiring ekspansi ekonomi digital. Pembayaran dividen kepada investor asing juga mendorong defisit neraca pendapatan primer.
Tekanan terbesar datang dari sisi transaksi modal dan finansial. Sepanjang 2025, aliran modal asing tercatat keluar, mencerminkan sikap hati-hati investor global menghadapi ketidakpastian. Namun, Indonesia tidak berdiri tanpa pelindung.
Cadangan devisa justru meningkat menjadi US$ 156,5 miliar pada akhir 2025. Posisi ini dinilai cukup kuat untuk membiayai impor dan kewajiban luar negeri pemerintah selama lebih dari enam bulan—dua kali lipat dari standar internasional minimum.
Menatap 2026 dengan Optimisme Hati-hati
BI memperkirakan transaksi berjalan pada 2026 tetap berada dalam kisaran rendah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Artinya, tekanan eksternal diperkirakan masih terkendali.
Di tengah ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda, perbaikan NPI 2025 memberi pesan bahwa struktur eksternal Indonesia tidak rapuh. Ekspor manufaktur, remitansi, dan cadangan devisa menjadi jangkar stabilitas.
Narasi besarnya bukan sekadar defisit atau surplus, melainkan kemampuan ekonomi Indonesia untuk tetap berdiri relatif tegak ketika badai global belum benar-benar berlalu.

