Jakarta (tutur.co.id) — Curah hujan tinggi yang turun beruntun memicu rangkaian bencana hidrometeorologi di kawasan lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat banjir bandang, tanah longsor, banjir, dan cuaca ekstrem melanda empat kabupaten, yakni Purbalingga, Pemalang, Brebes, dan Tegal, menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta pengungsian warga.
Di Purbalingga, banjir bandang terjadi di Kecamatan Rembang dan Karangreja pada Jumat (23/1). Luapan sungai bermuatan lumpur, batu, dan kayu menerjang permukiman Desa Serang dan Kutabawa. Satu orang meninggal dunia, satu luka-luka, serta puluhan warga mengungsi. Akses jalan menuju sejumlah dusun terputus akibat ambruknya Jembatan Kali Bambangan.
Banjir bandang juga melanda Pemalang pada Jumat sore hingga Sabtu dini hari. Di Kecamatan Pulosari dan Moga, satu orang meninggal dunia, dua luka berat, dan sekitar 22 warga luka ringan. Empat rumah, satu fasilitas ibadah, dan sejumlah jembatan penghubung desa dilaporkan rusak. Sebanyak 119 warga mengungsi ke Kantor Kecamatan Pulosari.
Di Brebes, hujan deras disertai angin kencang memicu banjir dan longsor di Kecamatan Sirampog, Bumiayu, dan Paguyangan. BNPB mencatat sembilan rumah rusak berat dan hanyut, longsor di tebing Jalan Provinsi Sirampog–Tuwel, serta kerusakan jalan kabupaten akibat banjir Kali Keruh.
Sementara itu, banjir bandang kembali terjadi di kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal, Sabtu (24/1) dini hari. Luapan DAS Gung merusak sejumlah sarana wisata, termasuk jembatan dan area pancuran. Tidak ada laporan korban jiwa, namun aktivitas wisata dihentikan sementara.
BNPB menilai bencana dipicu kombinasi hujan ekstrem, topografi curam, dan sungai berhulu pendek di kawasan Gunung Slamet. Saat ini, BNPB dan BPBD daerah melakukan evakuasi, pembersihan material, serta Operasi Modifikasi Cuacadi Jawa Tengah untuk menekan risiko hujan berlebih.
BNPB mengimbau masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di kawasan lereng Gunung Slamet dan sepanjang alur sungai untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dan bencana susulan. Pemantauan informasi cuaca dan peringatan dini, serta kepatuhan terhadap arahan petugas di lapangan, diharapkan dapat meminimalkan risiko dan dampak bencana terhadap keselamatan masyarakat.

