Washington (tutur.co.id) – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran tampaknya akan berlangsung panjang. Saat Teheran berkali-kali mengklaim akan melawan hingga titik darah penghabisan, Washington juga tampak tak mengendurkan niatnya untuk terus mengganggu negara di Kawasan Teluk itu. Yang terbaru, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS bahkan telah menyetujui Rencana Anggaran sebesar Rp1.702 Triliun untuk mendanai perang melawan Iran.
Seperti dilansir Gulfnews, Kamis 23 Juli 2026, DPR AS telah menyetujui kerangka anggaran sebesar Rp1.702 Triliun itu lewat kemenangan tipis dalam pemungutan suara Rancangan Undang-undang yang baru. Sebanyak 216 suara setuju melawan 214 suara. Dan rancangan undang-undang ini sekarang menuju senat untuk persetujuan akhir.
Dari total kerangka anggaran sebesar Rp1.702 triliun itu, sekitar Rp1.308 triliun akan dialokasikan untuk angkatan bersenjata dan badan intelijen, terutama untuk mendanai operasi yang terkait dengan perang melawan Iran. Lalu hanya sekitar Rp215 triliun yang dialokasikan untuk bantuan petani yang terdampak perang dagang Presiden Donald Trump.
Sedangkan dana sebesar Rp180 triliun dialokasikan untuk program-program terkait pemilu.
Jika disetujui Senat, maka dengan anggaran jumbo ini akan membuat Partai Republik dapat dengan leluasa menyusun undang-undang turunan di kemudian hari yang tentu saja akan dibuat sejalan dengan ambisi Trump termasuk untuk mendanai perang melawan Iran.
Menurut Ketua DPR Mike Johnson, persetujuan dari DPR terkait rancangan anggaran jumbo ini akan semakin memuluskan Langkah Partai Republik untuk mencapai dua tujuan utamanya yakni mengamankan pemilihan Amerika Serikat dan memperkuat pengaruhnya di peta dunia.
Tentu saja rancangan undang-undang ini mendapat tentangan keras dari Partai Demokrat. Perwakilan Demokrat, Rosa DeLauro, mengecam persetujuan di DPR ini sebagai langkah mundur karena dianggapnya memberikan jalan mulus bagi Trump untuk membiayai kelanjutan perangnya melawan Iran.
“Rakyat Amerika tidak menginginkan lebih banyak perang tanpa tujuan, mahal, dan mematikan di Timur Tengah. Mereka menginginkan harga kebutuhan pokok seperti makanan, perumahan, perawatan kesehatan, perawatan anak, dan bensin turun,” katanya.
Sebagai catatan tambahan, biaya hidup di Amerika Serikat saat ini menjadi isu sentral menjelang pemilihan paruh waktu, karena inflasi tetap tinggi. Protes-protes terus bermunculan di dalam Amerika Serikat terkait dengan kebijakan Trump terutama soal keputusan berperang melawan Iran.

