New York (Tutur.co.id) – Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, menegaskan seluruh keputusan yang diambil wasit Francois Letexier pada laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina melawan Mesir sudah sesuai dengan aturan permainan. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah derasnya kritik dari Federasi Sepak Bola Mesir (EFA), pelatih Hossam Hassan, hingga sejumlah pihak yang menilai kepemimpinan wasit merugikan Mesir.
Dikutip dari laman resmi FIFA, Kamis (9/7/2026), Collina menjelaskan bahwa seluruh keputusan penting dalam pertandingan, terutama yang berkaitan dengan gol dan intervensi Video Assistant Referee (VAR), telah melalui proses evaluasi yang cermat sebelum diputuskan.
Salah satu insiden yang menjadi sorotan adalah dianulirnya gol penyerang Mesir Mostafa Zico setelah VAR mendeteksi pelanggaran yang dilakukan gelandang Marwan Attia terhadap bek Argentina Lisandro Martinez pada awal proses serangan.
Menurut Collina, dalam penerapan VAR tidak ada batasan mengenai seberapa jauh lokasi pelanggaran dari gawang maupun berapa lama jeda waktu antara pelanggaran dan terciptanya gol.
“Contohnya terjadi pada pertandingan Argentina melawan Mesir ketika pemain nomor 19 Mesir, Marwan Attia, dengan jelas menginjak kaki pemain nomor 6 Argentina, Lisandro Martinez,” ujar Collina.
Ia menegaskan bahwa pelanggaran tetap harus dihukum meskipun tidak terlihat jelas oleh wasit di lapangan.
“Kami berpendapat bahwa pelanggaran tetaplah pelanggaran. Terlepas dari apakah pelanggaran tersebut terlihat jelas atau tidak, jika wasit tidak melihatnya secara langsung, VAR memiliki kewenangan untuk melakukan intervensi,” lanjutnya.
Selain membela keputusan pembatalan gol Mesir, Collina juga menjelaskan insiden yang terjadi menjelang gol kemenangan Argentina pada masa injury time. Saat itu kubu Mesir menilai Mohamed Salah dilanggar di kotak penalti sebelum Argentina melancarkan serangan balik yang berujung gol Enzo Fernandez.
Namun, menurut hasil evaluasi FIFA, keputusan wasit untuk membiarkan permainan terus berjalan sudah tepat karena Julian Alvarez lebih dahulu memainkan bola sebelum terjadi kontak dengan Salah.
“Pada situasi tersebut, wasit dan VAR menilai kontak antara Mohamed Salah dan Julian Alvarez merupakan kontak yang wajar dalam permainan sepak bola,” jelas Collina.
Pria asal Italia itu mengakui bahwa unsur subjektivitas memang tidak bisa dihindari dalam beberapa keputusan wasit. Meski demikian, ia menilai prinsip-prinsip utama perwasitan telah diterapkan secara konsisten sepanjang Piala Dunia 2026.
Collina juga menegaskan bahwa FIFA terbuka terhadap diskusi dan kritik yang bersifat konstruktif mengenai keputusan perangkat pertandingan. Namun, ia mengingatkan agar kritik tersebut tidak berkembang menjadi tuduhan tanpa dasar yang dapat merusak integritas kompetisi.
“Diskusi yang membangun mengenai keputusan wasit akan selalu menjadi bagian dari sepak bola. Namun, tuduhan yang tidak berdasar tidak memiliki tempat dalam olahraga ini,” tegas Collina.
Pernyataan Collina sekaligus menjadi respons resmi FIFA terhadap kontroversi yang mengiringi kemenangan dramatis Argentina atas Mesir. Dengan penjelasan tersebut, badan sepak bola dunia itu menegaskan bahwa seluruh keputusan wasit Francois Letexier telah diambil berdasarkan regulasi permainan dan prosedur VAR yang berlaku.

