Tokyo (tutur.co.id) – Mobil listrik memang masih menjadi primadona dalam transisi menuju kendaraan ramah lingkungan. Namun di balik derasnya perkembangan kendaraan berbasis baterai, teknologi lain diam-diam mulai menunjukkan potensinya. Mesin berbahan bakar hidrogen kini kembali menjadi sorotan karena dinilai lebih murah, lebih mudah diproduksi, dan mampu memanfaatkan teknologi mesin konvensional yang sudah ada.
Sejumlah perusahaan otomotif dan industri besar pun mulai berlomba mengembangkan teknologi ini sebagai alternatif masa depan. Salah satu gebrakan datang dari Kawasaki yang memperkenalkan O’Cuvoid, sebuah unit pembangkit listrik portabel berbasis mesin hidrogen. Berukuran sekitar satu meter persegi, perangkat ini menggunakan mesin pembakaran hidrogen untuk menggerakkan generator yang menghasilkan listrik sekitar 35 kW.
Kawasaki membayangkan O’Cuvoid dapat digunakan layaknya baterai berkapasitas besar, mulai dari kendaraan, kereta api, hingga berbagai kebutuhan lain. Menariknya, teknologi ini juga akan menjadi sumber tenaga robot Corleo yang dijadwalkan meluncur pada 2035.
Keunggulan terbesar mesin hidrogen terletak pada biaya produksinya. Berbeda dengan teknologi fuel cell yang membutuhkan logam langka seperti platinum sebagai katalis, mesin hidrogen masih menggunakan material umum seperti besi dan aluminium. Artinya, biaya pengembangan maupun perbaikannya jauh lebih murah karena dapat memanfaatkan komponen dan teknologi mesin kendaraan konvensional yang sudah ada. Mesin hidrogen juga tidak membutuhkan hidrogen dengan tingkat kemurnian sangat tinggi, sehingga biaya operasionalnya berpotensi lebih rendah dibanding kendaraan fuel cell.
Meski demikian, teknologi fuel cell masih unggul dari sisi efisiensi energi. Fuel cell mampu mengubah sekitar 60 persen energi hidrogen menjadi tenaga, sementara mesin pembakaran hidrogen berada di kisaran 40 persen. Selain itu, proses pembakaran pada mesin hidrogen masih berpotensi menghasilkan emisi nitrogen oksida (NOx), meskipun emisi karbon dioksidanya nyaris nol. Karena itulah banyak pelaku industri menilai kedua teknologi ini seharusnya berkembang berdampingan, bukan saling menggantikan.
Perkembangan mesin hidrogen juga semakin terlihat di dunia otomotif. Toyota terus mengembangkan mobil balap GR Corolla bertenaga hidrogen yang kini performanya mulai menyamai mobil bermesin bensin. Sementara itu, Mitsubishi Fuso tengah mengembangkan truk hidrogen dengan memanfaatkan sekitar 80 persen komponen dari mesin diesel yang sudah ada agar biaya produksi tetap kompetitif. Di India, Tata Motors juga mulai mengembangkan truk berbahan bakar hidrogen sebagai bagian dari strategi energi nasional negara tersebut.
Meski prospeknya menjanjikan, tantangan terbesar masih berada pada infrastruktur. Jumlah stasiun pengisian hidrogen di Jepang justru menurun dalam beberapa tahun terakhir, sementara harga hidrogen masih jauh di atas target pemerintah Jepang untuk tahun 2050.
Di sisi lain, perkembangan baterai kendaraan listrik yang semakin efisien juga menjadi pesaing berat bagi teknologi hidrogen. Meski begitu, banyak analis meyakini mesin hidrogen belum akan kehilangan tempatnya. Untuk kendaraan niaga, alat berat, hingga transportasi jarak jauh yang membutuhkan tenaga besar dan waktu pengisian cepat, hidrogen masih dianggap sebagai salah satu solusi paling menjanjikan menuju masa depan transportasi rendah emisi.

