New Jersey (Tutur.co.id) – Timnas Brasil akan menghadapi tantangan berat saat berjumpa Norwegia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Senin (6/7/2026) pukul 03.00 WIB. Di atas kertas, Brasil lebih diunggulkan berkat kualitas skuad dan dominasi statistik sepanjang turnamen. Namun, rekor pertemuan dan ketajaman Erling Haaland membuat laga ini diprediksi berlangsung jauh lebih sulit daripada yang diperkirakan.
Brasil belum pernah tersingkir pada babak 16 besar Piala Dunia sejak dikalahkan Argentina pada edisi 1990. Sebaliknya, Norwegia tengah menikmati pencapaian terbaik dalam sejarah mereka setelah untuk pertama kalinya berhasil memenangi pertandingan fase gugur Piala Dunia usai menyingkirkan Pantai Gading di babak 32 besar.
Menariknya, sejarah justru tidak berpihak kepada Selecao. Dalam empat pertemuan sebelumnya, Brasil belum pernah sekalipun mengalahkan Norwegia dengan catatan dua hasil imbang dan dua kekalahan. Salah satu kekalahan paling dikenang terjadi pada fase grup Piala Dunia 1998 ketika Norwegia menang dramatis 2-1. Selain itu, Brasil juga belum pernah lagi menyingkirkan tim asal Eropa di fase gugur Piala Dunia sejak menjuarai edisi 2002.
Brasil Diprediksi Kuasai Jalannya Pertandingan
Data statistik sepanjang Piala Dunia 2026 menunjukkan Brasil tetap menjadi tim yang lebih dominan dalam penguasaan bola. Rata-rata penguasaan bola Brasil mencapai 57,8 persen per pertandingan, jauh di atas Norwegia yang hanya mencatat 49,8 persen.
Tim asuhan Carlo Ancelotti mendominasi penguasaan bola saat menghadapi Haiti (57 persen), Skotlandia (54 persen), Jepang (69 persen), hingga Maroko (51 persen).
Sementara itu, Norwegia hanya benar-benar menguasai permainan saat menghadapi Irak dengan 61 persen penguasaan bola. Ketika melawan tim-tim kuat seperti Senegal dan Prancis, mereka lebih banyak bermain bertahan dengan penguasaan bola masing-masing hanya 42 persen dan 43 persen.
Statistik tersebut menunjukkan Brasil hampir pasti akan mengontrol permainan, sedangkan Norwegia diperkirakan mengandalkan serangan balik cepat yang selama ini menjadi senjata utama mereka.
Norwegia Lebih Efektif Memanfaatkan Peluang
Meski lebih sedikit menguasai bola, Norwegia tampil jauh lebih efisien dalam penyelesaian akhir. Brasil telah menciptakan 17 peluang emas sepanjang turnamen, tetapi sembilan di antaranya gagal dikonversi menjadi gol.
Norwegia bahkan mencatat 18 peluang emas, namun menyia-nyiakan 11 kesempatan. Perbedaan terlihat pada efektivitas penyelesaian akhir. Brasil melepaskan 60 tembakan, dengan 26 tepat sasaran dan tingkat konversi gol sebesar 15 persen.
Sebaliknya, Norwegia hanya menghasilkan 44 tembakan, tetapi memiliki tingkat konversi mencapai 22,73 persen, menjadi salah satu yang terbaik di Piala Dunia 2026. Artinya, Brasil lebih produktif menciptakan peluang, sedangkan Norwegia jauh lebih mematikan ketika mendapatkan kesempatan.
Akurasi Operan Jadi Senjata Brasil
Dominasi Brasil juga terlihat dari jumlah operan sukses. Selecao mencatat rata-rata 525 operan akurat per pertandingan, sedangkan Norwegia hanya membukukan 379 operan.
Ancelotti diperkirakan kembali mengandalkan kombinasi umpan pendek dan rotasi antarpemain untuk membongkar pertahanan rapat Norwegia.
Saat menghadapi Jepang, Brasil bahkan mengirim 39 umpan silang, dengan 27 di antaranya dilakukan pada babak kedua demi memecah pertahanan lawan.
Namun strategi tersebut belum tentu efektif saat menghadapi Norwegia. Tim Skandinavia memiliki rata-rata tinggi badan pemain 1,87 meter, lebih unggul dibanding Brasil yang hanya 1,83 meter, sehingga duel udara diperkirakan akan lebih banyak dimenangkan Norwegia.
Lini Belakang Brasil Lebih Kokoh
Perbedaan kualitas juga terlihat dari catatan pertahanan kedua tim. Brasil baru kebobolan dua gol sepanjang turnamen dan hanya menghadapi 40 tembakan, dengan 13 di antaranya tepat sasaran.
Sebaliknya, Norwegia sudah kebobolan delapan gol dan menerima 59 tembakan, termasuk 19 tembakan tepat sasaran. Data tersebut menunjukkan lini belakang Norwegia masih menyisakan banyak celah.
Prancis sempat menciptakan 18 peluang saat menghadapi Norwegia. Bahkan Irak, Senegal, dan Pantai Gading juga mampu menghasilkan banyak peluang berbahaya. Jika kelemahan itu kembali muncul, Brasil memiliki kualitas individu yang cukup untuk menghukumnya.
Erling Haaland Jadi Ancaman Utama Brasil
Meski demikian, Brasil tetap harus mewaspadai ketajaman Erling Haaland. Striker Manchester City tersebut telah mencetak lima gol dan menjadi salah satu kandidat kuat peraih Sepatu Emas Piala Dunia 2026.
Menariknya, Haaland tidak membutuhkan banyak sentuhan untuk menciptakan ancaman. Saat menghadapi Pantai Gading, ia hanya menyentuh bola 27 kali, paling sedikit di antara seluruh pemain yang menjadi starter. Bahkan ia lebih sering berada di kotak penalti tim sendiri dibanding kotak penalti lawan.
Namun dari empat tembakan yang dilepaskan, satu di antaranya menjadi gol kemenangan Norwegia. Gabriel Magalhaes diperkirakan akan mendapat tugas khusus mengawal Haaland sepanjang pertandingan.
Kecepatan juga menjadi senjata utama sang striker. Haaland mencatat kecepatan maksimum 35,7 km/jam, hanya kalah dari bek Prancis Jules Kounde (36,1 km/jam).
Selain Haaland, Norwegia juga memiliki pemain cepat seperti Oscar Bobb (34,9 km/jam) dan Alexander Sorloth (34,5 km/jam) yang siap menghukum Brasil melalui serangan balik.
Bruno Guimaraes dan Vinicius Junior Jadi Andalan Selecao
Di kubu Brasil, kreativitas permainan akan bertumpu pada Bruno Guimaraes. Gelandang Newcastle United tersebut telah mengoleksi empat assist, terbanyak kedua di Piala Dunia 2026, hanya kalah dari Michael Olise.
Sementara itu, Vinicius Junior menjadi ancaman utama di lini depan dengan rata-rata 2,5 tembakan tepat sasaran per pertandingan, termasuk yang terbaik sepanjang turnamen.
Di bawah mistar gawang, Alisson Becker juga tampil konsisten. Berdasarkan data Opta, ia telah mencegah 1,19 gol sepanjang turnamen, salah satu angka terbaik di Piala Dunia 2026.
Sebaliknya, kiper Norwegia Orjan Nyland memiliki catatan yang jauh lebih rendah dengan nilai minus 0,65 gol yang berhasil dicegah, menunjukkan efektivitas penyelamatannya masih berada di bawah rata-rata.
Statistik Menjagokan Brasil, tetapi Sejarah Menguntungkan Norwegia
Secara statistik, Brasil unggul dalam hampir semua aspek permainan, mulai dari penguasaan bola, jumlah operan, kualitas pertahanan, hingga kreativitas serangan.
Namun, sepak bola tidak hanya ditentukan oleh angka. Rekor pertemuan yang belum pernah dimenangkan Brasil, efektivitas penyelesaian akhir Norwegia, serta ketajaman Erling Haaland menjadi alasan mengapa laga babak 16 besar ini diprediksi berlangsung sengit.
Jika mampu memanfaatkan dominasi permainan menjadi gol, Brasil berpeluang mengakhiri kutukan mereka atas Norwegia. Namun jika kembali gagal mengantisipasi serangan balik cepat, Selecao berisiko kembali menjadi korban kejutan tim Skandinavia di panggung Piala Dunia.

