Jakarta (tutur.co.id) – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pemerintah akan menutup lebih dari 200 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk efisiensi anggaran. Nantinya Presiden menargetkan akan menyisakan sekitar 250 BUMN.
“Dari 1.000 lebih BUMN, sekarang kita sudah tutup lebih dari 200. Nanti kita akan bikin tinggal 300 lah. Bagaimana Pak Doni? Ujungnya nanti kita bisa berapa BUMN? Ujungnya nanti 250? Bayangkan, lebih dari 750 kita tutup,” ujar Prabowo dalam penutupan Sarasehan Kebangsaan di Jakarta, Minggu 28 Juni 2026.
Presiden menyoroti besarnya biaya operasional BUMN yang dinilai tidak efisien. Mereka para Direktur tetap menerima gaji meski perusahaan tak mendatangkan keuntungan.
“750 dirut, 750 direksi kali 4 atau kali 5, 750 komisaris kali 10. Overhead nya kayak apa, gajinya kayak apa? Saudara-saudara, ini uang rakyat semua. Perusahaan tidak untung, hanya bayar overhead,” tegasnya.
Prabowo mengatakan efisiensi ini harus segera dilakukan. Ia ingin segera menyelesaikan persoalan BUMN yang rugi dan harus tuntas pada tahun ini. Targetnya, dalam dua tahun ke depan BUMN akan lebih efisien, transparan, dan bekerja untuk rakyat.
“Jadi dalam dua tahun kita akan bikin BUMN-BUMN lebih efisien, lebih transparan, lebih bekerja untuk rakyat,” pungkasnya.
Presiden juga merespons usulan agar BUMN mengalokasikan sebagian laba untuk riset dan inovasi. Menurutnya ide tersebut sangat bagus untuk memajukan teknologi Indonesia.
“Tadi juga usul biaya riset, diusulkan agar tiap BUMN mengalokasikan sebagian laba mereka untuk riset dan inovasi. Ini bagus usulnya,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo mengakui beberapa BUMN mulai menunjukkan laba setelah satu tahun masa pemerintahannya. Hal itu diketahuinya berdasarkan laporan Danantara.

