Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (5/6/2026), di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, penguatan dolar AS, serta sentimen negatif dari outlook Danantara Investment Management (DIM).
Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah ditutup melemah 82 poin ke level Rp18.049 per dolar AS, setelah sempat menyentuh pelemahan hingga 90 poin. Sebelumnya, mata uang Garuda dibuka turun 37 poin atau 0,21% ke level Rp18.003 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diprediksi berfluktuasi namun berpotensi ditutup melemah pada rentang Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah masih dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Konflik memanas setelah serangan rudal Iran ke Kuwait dan Bahrain, serta serangan militer AS terhadap Pulau Qeshm di dekat Selat Hormuz. Di saat yang sama, Israel juga dilaporkan memperluas operasi militernya di Lebanon Selatan.
Ketegangan tersebut mendorong investor global kembali memburu aset safe haven, termasuk dolar AS, sehingga memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor geopolitik, pasar juga menantikan rilis data tenaga kerja Amerika Serikat, khususnya laporan Nonfarm Payrolls (NFP), yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan.
Data terbaru dari ADP menunjukkan sektor swasta AS menambah 122.000 lapangan kerja pada Mei 2026. Angka tersebut memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS masih cukup solid dan berpotensi menopang dolar AS dalam jangka pendek.
Dari dalam negeri, lonjakan harga minyak dunia turut menjadi faktor pemberat. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga energi meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor migas dan memperbesar permintaan terhadap dolar AS.
Sentimen lain datang dari lembaga pemeringkat Moody’s yang menetapkan peringkat pertama bagi PT Danantara Investment Management (DIM) pada level Baa2 atau setara investment grade, namun dengan outlook negatif. Prospek negatif tersebut memicu kekhawatiran pasar terkait potensi penurunan peringkat apabila risiko-risiko yang ada tidak membaik.
Meski demikian, analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, melihat peluang penguatan terbatas bagi rupiah dalam jangka pendek apabila sentimen global membaik.
Menurut dia, stabilisasi pasar global, masuknya aliran devisa, serta peluang perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran dapat membantu meredakan tekanan terhadap harga energi dan mengurangi ketidakpastian pasar.
Namun untuk periode kuartal III hingga kuartal IV 2026, Brahmantya memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.500 per dolar AS.
“Jika area tersebut tertembus, rupiah berpotensi menuju level psikologis berikutnya pada kisaran Rp19.000 hingga Rp20.000 per dolar AS. Arah pergerakannya akan sangat bergantung pada kekuatan dolar AS, harga energi, dan arus modal asing ke emerging market,” ujarnya.
Brahmantya menilai kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) tetap memberikan manfaat bagi stabilitas pasar valas domestik karena meningkatkan pasokan dolar AS di dalam negeri dan memperkuat likuiditas valuta asing perbankan.
Meski demikian, DHE SDA dinilai lebih berfungsi sebagai bantalan stabilitas ketimbang solusi utama untuk menopang rupiah. Pasalnya, arah pergerakan mata uang domestik masih sangat dipengaruhi faktor eksternal seperti kebijakan Federal Reserve, harga minyak dunia, kondisi likuiditas global, serta perkembangan geopolitik.
Karena itu, stabilitas rupiah dalam beberapa bulan ke depan akan sangat ditentukan oleh kombinasi antara kekuatan fundamental ekonomi domestik dan dinamika pasar global yang masih penuh ketidakpastian.

