Berlin (tutur.co.id) – Reza Pahlavi, putra mahkota dari dinasti Shah, kembali ‘bernyanyi’ menanggapi kondisi negara asalnya Iran. Menurut Reza Pahlavi, menumbangkan rezim Republik Islam Iran menjadi harga mati jika dunia termasuk Eropa ingin aman damai.
Hal itu disampaikan putra dari raja terakhir Iran Mohammad Reza Pahlavi ini saat diminta tanggapan terkait negosiasi Amerika Serikat yang kini menjadi negara tempat tinggalnya dengan negara asalnya, Iran. Ia menegaskan negosiasi bukan solusi.
“(Ketua Parlemen Mohammad Bagher) Ghalibaf dan (Menteri Luar Negeri) Araghchi bukanlah pragmatis; mereka bukanlah reformis, mereka adalah wajah yang berbeda dari mesin yang sama,” kata Pahlavi dalam pidatonya di Berlin, Kamis 23 April 2026.
Ia menambahkan bahwa tokoh-tokoh di dalam Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ditudingnya memang tak menginginkan perdamaian dan kerap beroperasi di balik layer untuk terus menghadirkan kekacauan di Kawasan Teluk.
“Selama rezim ini berkuasa, Anda akan terus menghadapi ancaman ini, dan ancaman tersebut hanya akan semakin buruk. Tidak ada kesepakatan yang akan menyelesaikan ini. Tidak ada negosiasi yang akan menyelesaikan ini. Itu sudah ada dalam DNA mereka,” tambahnya.
Pernyataan tersebut muncul ketika Pahlavi memperingatkan bahwa Iran terus menimbulkan ancaman bagi Eropa melalui dugaan serangan siber, dukungan untuk serangan di wilayah Eropa, dan kerja sama militer dengan Rusia, termasuk pasokan drone yang digunakan dalam perang di Ukraina.
“Pemerintah Eropa harus berhenti menuruti rezim ini,” tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, para pejabat senior Iran menyalahkan Washington atas terhambatnya negosiasi perdamaian karena blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan negara itu, sementara Garda Revolusi Iran mengatakan telah menangkap dua kapal asing di Selat Hormuz dan menembaki kapal ketiga karena melanggar peraturan maritim.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran menginginkan dialog dan kesepakatan tetapi pelanggaran komitmen, blokade, dan ancaman adalah hambatan utama bagi negosiasi yang tulus.

