Tel Aviv (Tutur.co.id) – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan dukungannya terhadap penghentian serangan selama dua pekan dalam konflik dengan Iran. Namun, ia menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak berlaku untuk wilayah Lebanon.
Pernyataan yang dilaporkan media pemerintah Iran, Press TV, pada Rabu (8/4/2026) itu menegaskan bahwa penghentian sementara operasi militer dilakukan sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan. Meski demikian, Netanyahu menilai situasi di perbatasan utara Israel memiliki dinamika berbeda dan tetap memerlukan langkah-langkah keamanan.
Sikap tersebut mengindikasikan bahwa operasi militer Israel terhadap target di Lebanon, termasuk yang berkaitan dengan kelompok Hizbullah, kemungkinan akan tetap berlanjut meski ada kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Hingga kini, belum ada rincian teknis terkait mekanisme gencatan senjata maupun tanggapan resmi dari pihak Lebanon.
Di sisi lain, kritik terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, datang dari Senator AS Chris Murphy. Dalam pernyataannya yang juga dikutip Press TV, Murphy menilai konflik dengan Iran berakhir dengan konsesi besar yang justru menguntungkan Teheran.
Ia menyoroti kemungkinan meningkatnya pengaruh Iran di kawasan, terutama jika negara tersebut memperoleh kendali lebih besar atas Selat Hormuz, sebuah jalur vital bagi distribusi energi global.
“Iran memproyeksikan kekuatan lebih besar di kawasan dibanding sebelum perang, terutama jika mereka kini mengendalikan Selat Hormuz,” ujar Murphy.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas di kawasan tersebut. Oleh karena itu, setiap perubahan dinamika kontrol di wilayah ini dinilai berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi global.

