Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (2/4/2026), meski sempat menguat pada sesi sebelumnya.
Pada penutupan perdagangan Rabu (1/4/2026), rupiah tercatat menguat 58 poin ke level Rp16.983 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.041. Namun demikian, tekanan eksternal dinilai masih cukup kuat untuk menahan penguatan lebih lanjut.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah akan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.980 hingga Rp17.020 per dolar AS.
Menurutnya, meskipun terdapat sinyal meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, respons pasar masih cenderung terbatas. Presiden AS, Donald Trump, disebut membuka peluang untuk mengakhiri operasi militer, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyatakan kesiapan untuk menghentikan konflik dengan sejumlah syarat.
Namun, pelaku pasar masih berhati-hati. “Pasar menyeimbangkan harapan gencatan senjata dengan risiko gangguan pasokan energi yang masih berlangsung,” ujar Ibrahim.
Selain faktor geopolitik, tekanan terhadap rupiah juga datang dari data ekonomi Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan penurunan jumlah lowongan kerja pada Februari menjadi 6,882 juta, lebih rendah dari bulan sebelumnya dan di bawah ekspektasi pasar. Kondisi ini mencerminkan pelemahan pasar tenaga kerja AS.
Di sisi lain, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada 2026 juga mulai meredup, terutama di tengah tingginya harga energi global. Sebelumnya, pasar memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin.
Dari dalam negeri, sentimen positif sebenarnya masih terlihat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$1,27 miliar pada Februari 2026, memperpanjang tren surplus menjadi 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Namun, sentimen global yang dominan membuat rupiah tetap rentan terhadap tekanan.

