Washington DC (Tutur.co.id) – Sebuah kelompok peretas pro-Iran, Handala, mengklaim telah mengakses email pribadi Direktur FBI Kash Patel. Tak hanya itu, mereka juga memposting isi yang diduga berasal dari kotak masuk email tersebut secara online.
Handala memang dalam beberapa minggu terakhir ikut membantu Iran dengan melakukan serangan siber ke jantung Amerika. Beberapa perusahaan top Amerika berhasil mereka sabotase untuk ikut mempermalukan AS.
Sebelum meretas email bos FBI itu, mereka juga mengklaim bertanggung jawab atas peretasan terhadap perusahaan teknologi medis Stryker dan perusahaan dirgantara AS, Lockheed Martin sebagai tanggapan terhadap perang Iran.
Dilansir dari govexec, Jumat 27 Maret 2026, para hacker pro Iran itu lantas menyebarkan beberapa informasi gambar dan dokumen secara online yang mereka klaim berasal dari akun email Patel. Termasuk banyak gambar termasuk foto Patel dalam kapasitas pribadi sebelum menjadi direktur FBI.
FBI sendiri juga telah menyampaikan konfirmasi terkait kabar itu. Mereka mengakui jika email pribadi bos mereka tengah menjadi sasaran kelompok hacker pro Iran tersebut. Namun mereka mengklaim tak ada informasi terkait dengan pemerintah AS.
“FBI menyadari adanya pelaku jahat yang menargetkan informasi email pribadi Direktur Patel, dan kami telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mengurangi potensi risiko yang terkait dengan aktivitas ini. Informasi yang dimaksud bersifat historis dan tidak melibatkan informasi pemerintah,” kata biro FBI.
FBI sendiri sempat mengklaim telah mengamankan kawanan hacker pro Iran itu dengan menyita domain yang digunakan oleh kelompok tersebut. Namun Tindakan tersebut tampaknya tak punya pengaruh besar dan menjadi bahan tertawaan anggota Handala.
“Hari ini, sekali lagi, dunia menyaksikan runtuhnya apa yang disebut legenda keamanan Amerika. FBI dengan bangga merebut domain kami dan segera mengumumkan hadiah $10 juta untuk kepala anggota Handala Hack, kami memutuskan untuk menanggapi pertunjukan konyol ini dengan cara yang akan dikenang selamanya,” tulis kelompok itu di situs web mereka.
Ini bukan pertama kalinya peretas yang bersekutu dengan Iran melakukan operasi “peretasan dan kebocoran” terhadap target AS. Pada tahun 2024, kampanye Trump diakses dalam peretasan Iran yang mengungkap dokumen pemeriksaan untuk Wakil Presiden JD Vance.

