Jakarta (tutur.co.id) — Pasar saham Asia-Pasifik dibuka dalam tekanan tajam pada awal pekan ini, Senin (23/3/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen global memburuk setelah pernyataan keras dari Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan fasilitas listrik Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi energi dunia, yang menjadi titik transit utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak global. Ancaman terhadap jalur ini langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dan lonjakan harga komoditas.
Respons keras datang dari pihak Iran. Ketua parlemen Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan menargetkan infrastruktur energi di seluruh kawasan Timur Tengah. Bahkan, ancaman diperluas ke sektor keuangan global, termasuk potensi penargetan terhadap pihak-pihak yang membeli obligasi pemerintah AS.
Eskalasi tersebut segera tercermin di pasar saham Asia. Indeks Nikkei 225 anjlok sekitar 4% pada awal perdagangan, diikuti Topix yang turun 2,8%. Di Korea Selatan, Kospi merosot 4,6% dan Kosdaq melemah 3,7%.
Tekanan juga merambah pasar Australia, dengan S&P/ASX 200 turun lebih dari 1,8%. Sementara itu, indeks Hang Seng Index diperkirakan turut dibuka di zona merah, mencerminkan sentimen risk-off yang meluas di kawasan.
Di tengah gejolak tersebut, pergerakan harga minyak dunia menunjukkan dinamika yang beragam. Harga minyak Brent crude tercatat turun tipis 0,37% ke level US$111,78 per barel, meski sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan 2022. Sebaliknya, minyak West Texas Intermediate (WTI) masih menguat tipis 0,11% ke posisi US$98,34 per barel.
Tarik-menarik sentimen antara eskalasi konflik dan rencana pelonggaran sanksi terhadap Iran menjadi faktor utama yang memengaruhi arah harga minyak. Di satu sisi, konflik meningkatkan risiko gangguan pasokan, namun di sisi lain potensi tambahan suplai dari Iran menahan kenaikan harga lebih lanjut.
Sentimen negatif sebenarnya telah lebih dulu muncul dari pasar Amerika Serikat. Pada penutupan pekan lalu, indeks utama S&P 500 turun lebih dari 1,5% dan jatuh di bawah rata-rata pergerakan 200 hari. Dow Jones Industrial Average mencatat penurunan selama empat pekan berturut-turut, sementara Nasdaq Composite melemah sekitar 2%.
Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko eskalasi konflik yang lebih luas. Ketidakpastian geopolitik kini kembali menjadi faktor dominan yang menggerakkan pasar global, terutama di tengah sensitivitas tinggi terhadap harga energi dan stabilitas ekonomi dunia.

