Jakarta (tutur.co.id) — Pemerintah Prancis menyatakan kesiapan mendukung Amerika Serikat dalam mengamankan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Namun, Paris menegaskan tidak akan mengirim pasukan selama kawasan tersebut masih menjadi zona konflik.
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure menyebut bantuan hanya akan diberikan jika situasi telah mereda dan risiko serangan berkurang.
“Kami bersedia melakukan sesuatu untuk membebaskan Selat Hormuz, asalkan kondisinya bukan lagi situasi perang,” ujar Lescure, seperti dikutip CNBC International.
Sikap ini muncul di tengah tekanan Presiden AS Donald Trump kepada sekutu Eropa untuk ikut menjaga jalur tersebut. Namun, negara-negara Eropa cenderung berhati-hati dan enggan terlibat langsung dalam konflik yang dinilai sebagai “perang pilihan”.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menegaskan bahwa meski bukan perang Eropa, dampaknya tetap signifikan bagi kawasan.
“Ini bukan perang Eropa, tetapi kepentingan Eropa secara langsung sedang dipertaruhkan,” tegasnya.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menegaskan negaranya tidak akan terlibat dalam operasi militer selama konflik masih berlangsung.
“Setelah situasi mereda… kami siap memikul tanggung jawab dalam sistem pengawalan kapal,” kata Macron.
Selat Hormuz sendiri merupakan chokepoint strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan risiko tekanan ekonomi, terutama bagi Eropa dan Asia.

