Teheran (Tutur.co.id) – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan kepada sejumlah fasilitas industri yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Laporan kantor berita Iran Fars News Agency menyebutkan IRGC meminta para pekerja di fasilitas industri yang terkait dengan AS untuk segera meninggalkan lokasi kerja mereka. Peringatan itu juga ditujukan kepada warga yang tinggal di sekitar kawasan industri tersebut agar melakukan evakuasi sebagai langkah antisipasi.
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut bahwa fasilitas-fasilitas tersebut berpotensi menjadi sasaran serangan dalam waktu dekat. Bahkan, mereka memperingatkan kemungkinan serangan dapat terjadi dalam hitungan jam.
Di sisi lain, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kemampuan rudal Iran disebut telah mengalami penurunan signifikan. Trump mengklaim peluncuran rudal balistik Iran saat ini telah berkurang hingga sekitar 90 persen.
Ia juga mengklaim sejumlah fasilitas produksi rudal Iran telah dihantam serangan sehingga kemampuan produksi senjata negara tersebut menjadi sangat terbatas. Menurut Trump, lebih dari 7.000 target telah diserang, termasuk sejumlah fasilitas penting milik Iran.
Trump juga menyebut bahwa Kharg Island, salah satu pulau strategis Iran, telah mengalami kerusakan parah akibat serangan, meskipun fasilitas minyak di kawasan tersebut dilaporkan masih tersisa.
Sementara itu, insiden lain dilaporkan terjadi di Nahariya, sebuah kota pesisir di Israel utara. Sebuah bola api besar dilaporkan menghantam kawasan permukiman dan menyebabkan kerusakan berat pada sebuah rumah serta melukai beberapa orang.
Militer Israel menyatakan pihaknya masih menyelidiki penyebab pasti ledakan tersebut. Salah satu kemungkinan yang sedang diperiksa adalah apakah insiden itu disebabkan kegagalan interseptor dari sistem pertahanan udara. Namun, penyelidikan awal menunjukkan ledakan kemungkinan besar disebabkan oleh roket yang jatuh di wilayah tersebut.
Rangkaian peristiwa tersebut menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah yang dalam beberapa waktu terakhir terus diwarnai serangan rudal, operasi militer, serta ancaman balasan antar pihak yang terlibat dalam konflik.

