Jakarta (tutur.co.id) — Bank Indonesia (BI) angkat bicara terkait eskalasi konflik terbuka antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu gejolak di pasar keuangan global. Otoritas moneter memastikan terus memantau dampak ketegangan geopolitik tersebut terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan BI akan mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat guna menjaga rupiah tetap bergerak sesuai fundamentalnya.
“Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya,” ujar Erwin dalam keterangan resmi, Senin (2/3/2026).
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.04 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah melemah 45 poin atau sekitar nol koma dua tujuh persen ke level Rp16.832 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS tercatat menguat sekitar nol koma dua satu persen ke posisi 97,82.
Pelemahan rupiah dinilai tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong investor memburu aset safe haven dan memperkuat dolar AS.
BI menegaskan tetap hadir di pasar melalui bauran kebijakan stabilisasi. Intervensi dilakukan baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Selain itu, bank sentral juga akan mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi suku bunga guna menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendukung momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan eksternal.

