Jakarta (tutur.co.id) — Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menghapus tambahan tarif 25% terhadap barang-barang asal India. Keputusan ini menjadi tindak lanjut konkret dari kesepakatan dagang besar yang dicapai Amerika Serikat dan India pada awal pekan ini, sekaligus menandai babak baru hubungan ekonomi kedua negara.
Dalam perintah eksekutif yang dirilis Gedung Putih, Trump menegaskan penghapusan tarif tersebut berkaitan langsung dengan komitmen India untuk menghentikan ketergantungan energi dari Rusia dan mengalihkan pembelian energi ke Amerika Serikat.
“India telah berkomitmen untuk menghentikan impor minyak dari Federasi Rusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai gantinya, mereka akan membeli produk energi dari Amerika Serikat,” ujar Trump, seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (7/2/2026).
Selain sektor energi, kesepakatan ini juga mencakup kerangka kerja sama pertahanan strategis antara AS dan India untuk jangka waktu 10 tahun ke depan.
Tarif Turun, Ekspor India Diuntungkan
Tak hanya menghapus tarif tambahan 25%, pemerintah AS juga memangkas pungutan tarif timbal balik (reciprocal levy) atas produk India. Dengan kebijakan tersebut, tarif efektif produk India kini turun menjadi 18%, berlaku mulai 7 Februari 2026 pukul 00.01 waktu Washington.
Langkah ini menjadi angin segar bagi India. Sebelumnya, sejak pertengahan tahun lalu, sejumlah produk India dikenakan tarif hingga 50%, tertinggi di antara mitra dagang utama AS di Asia. Trump secara terbuka mengakui upaya Perdana Menteri India Narendra Modi dalam membatasi pembelian minyak mentah Rusia sebagai faktor utama di balik pelonggaran tarif tersebut.
Komitmen Dagang US$ 500 Miliar
Sebagai imbal balik, India menyatakan komitmennya untuk membeli produk-produk asal Amerika Serikat senilai US$ 500 miliar atau sekitar Rp 7.850 triliun dalam lima tahun ke depan. Nilai transaksi tersebut mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari produk pertanian, manufaktur, kimia, hingga perangkat medis.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyebut kesepakatan ini sebagai momentum penting bagi hubungan bilateral kedua negara.
“Pengumuman hari ini menunjukkan semakin dalamnya hubungan Amerika Serikat dan India, sekaligus membuka peluang baru bagi petani dan pelaku usaha di kedua negara,” ujar Greer.
Sejumlah poin penting dalam kesepakatan dagang AS–India ini antara lain:
Sektor penerbangan: AS menghapus tarif untuk pesawat dan suku cadang tertentu.
(1) Farmasi dan otomotif: India memperoleh kuota tarif preferensial untuk obat-obatan generik dan suku cadang kendaraan.
(2) Teknologi tinggi: Peningkatan perdagangan produk teknologi, termasuk cip canggih untuk pusat data.
(3) Energi dan batu bara: India meningkatkan pembelian batu bara kokas dan produk energi dari AS.
Langkah Strategis India di Tengah Geopolitik Global
Kesepakatan dengan Amerika Serikat ini datang setelah India lebih dulu menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa. Langkah tersebut memperlihatkan strategi India dalam memperluas pasar ekspor dan memperkuat posisinya di tengah dinamika geopolitik global.
Di sisi lain, kebijakan ini juga mencerminkan respons negara-negara mitra dagang terhadap pendekatan proteksionis pemerintahan Trump. Meski rincian investasi US$ 500 miliar tersebut masih akan dikaji lebih lanjut—karena mencakup proyek yang tersebar dalam lima tahun—kesepakatan ini dinilai berhasil meredakan ketegangan dagang antara AS dan India.
Bagi kedua negara, kesepakatan ini bukan sekadar soal tarif, melainkan juga penegasan arah baru kerja sama strategis di bidang energi, perdagangan, dan pertahanan.

